Yulida Hasanah: Islam Moderat Tak Membawa Rahmat







Masih kuat dalam ingatan, bagaimana negeri ini begitu gencar menyuarakan Moderasi Islam. Pada bulan Maret lalu, Presiden Jokowi telah menginisiasi Pertemuan Ulama Internasional tahun 2018 yang digelar 15-19 Maret. Dalam pertemuan tersebut, diharapkan para Ulama bisa mengajarkan bahwa “Demokrasi dan Toleransi beragama” dapat berjalan beriringan secara harmonis. Dan di tahun 2018 ini pula, negeri ini menjadi tuan rumah Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendikiawan Muslim Dunia yg akan digelar di Bogor , Jawa Barat pada 1-3 Mei. Dimana KTT ini dijadikan sebagai ajang promosi mengenai Islam Moderat di Indonesia.

Bahkan, sebelum terjadi gempa dahsyat di Lombok dengan kekuatan magnitudo 7,0 SR pada hari minggu 5 Agustus 2018 lalu, yang kemudian diikuti dengan gempa susulan/aftershock terus mengguncang Lombok hampir sebulan lamanya. Telah diselenggarakan sebuah Konferensi yang bertema "Moderasi Islam dalam Perspektif Ahlussunnah wal Jam'ah", yang berlangsung 26-29 Juli 2018 di pulau seribu masjid tersebut.

Belum tuntas membenahi Lombok pasca gempa, Indonesia kembali ditimpa bencana. Tepatnya pada hari jumat tanggal 28 September kemarin, gempa mahadahsyat berkekuatan 7,7 magnitudo dan terjangan tsunami yang melanda Kota Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.  Beberapa hari sebelumnya, di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu  telah digelar acara yang mewadahi program deradikalisasi ini yaitu sidang AICIS yang diselenggarakan tanggal 17 sampai 20 September 2018 kemarin dengan mengangkat tema “Islam Di Asia Tenggara Dan Dunia Global: Teks, Pengetahuan Dan Praktek”  .  Acara ini juga menyuarakan Islam Moderat sebagai solusi dari Islam Radikal di Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Lalu, apakah dengan menyurakan Islam moderat, negeri ini semakin membaik? dan kedamaian di negeri ini telah dirasakan dan umat Islam semakin aman sentosa ?
Apakah dengan menyuarakan Islam moderat, hukum-hukum Allah SWT lantas menjadi rujukan bagi setiap masalah yang menimpa Indonesia ?

Tidak dapat dipungkiri, bahwa  kampanye Islam moderat di tahun 2018 ini semakin nyaring disuarakan. Mulai dari pembubaran Ormas HTI yang diklaim radikal oleh pemerintah, kemudian pengesahan UU Terorisme sampai isu radikalisme, bahkan ulamapun menjadi korban persekusi dan kriminalisasi gegara tak sesuai dengan arahan moderasi Islam yang dikehendaki pemerintahan saat ini.
Tidak berhenti sampai di situ saja, atas nama toleransi yang menjadi salah satu nilai yang dikampanyekan atas nama Moderasi Islam. Pemerintah melalui Kemenag juga membuat kebijakan terkait pengaturan volume adzan.Hal ini dinilai mampu menjadi solusi atas kasus intoleran yang terjadi di Tanjungbalai terkait suara adzan pada 2016 lalu.
Selain itu, akibat kampanye Islam moderat, cadarpun dikait-kaitkan dengan sikap radikal yang akhirnya malah menyudutkan para muslimah bercadar. Belum lagi, simbol –simbol dan ajaran Islam lainnya yang dituduh sebagai simbol yang akan memecahbelah NKRI seperti simbol bendera tauhid dan ajaran Khilafah dalam Islam.

Sungguh sangat ironis, umat Islam telah gampang diadudomba atas nama “memerangi radikalisme dan mengambil jalan moderasi Islam”, sampai tindakan mereka bukan lagi berdasar akal sehat. Sebagaimana yang terjadi beberapa waktu lalu yaitu pembakaran bendera Tauhid oleh oknum Banser pada peringatan Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2018 di Garut, Jawa barat.
Di tengah kondisi ekonomi yang semakin membelit negeri, kerusakan moral tidak hanya menimpa generasi, dan bencana datang bertubi-tubi seakan menjadi alarm yang akan terus berdering hingga negeri ini sadar akan ‘kemaksiatan’ yang telah terjadi. Yaitu kemaksiatan besar, memerangi perjuangan penerapan Islam kaffah yang datangnya dari Sang Pencipta manusia dan mengkampanyekan moderasi Islam yang dijajakan oleh negara-negara Sekuler.

Gapai Rahmat Dengan Islam kaffah

Allah SWT telah menggambarkan tentang rahmat-Nya kepada penduduk bumi pada umat Islam sebelum kita, yaitu umat islam yang pernah dianuangi dengan penerapan Islam Kaffah dalam institusi Khilafah Islamiyah selama 1400 tahun lamanya. Dan saat ini, jutaan umat islam mulai bangga dan sadar akan kebutuhan untuk kembali pada Islam kaffah. Maka, umat islam harus tetap memiliki semangat dalam memperjuangkan Islam kaffah sebagai jalan mereka untuk membela agamaNya, selain terus percaya diri mensyi’arkan simbol-simbol Islam seperti panji Rasulullah (al liwa dan ar royah), dan juga kalimat tauhid yang menjadi ciri keislaman mereka.

Ada tiga alasan kuat, mengapa kita butuh memperjuangkan Islam Kaffah untuk selamatkan negeri ini.
Pertama, perjuangan Islam kaffah adalah wujud mengesakan Allah SWT. Bagi seorang mukmin yang percaya tentang keesaan Allah SWT dalam menciptakan dan mengatur kehidupan makhluk-Nya, ia yakin bahwa tidak ada hukum yang paling sempurna dan paling adil, selain hukum yang telah ditetapkan sendiri oleh Dzat Yang Maha Sempurna dan Maha Adil. Dan telah jelas di dalam al Qur’an, bagaimana seharusnya sikap seorang mukmin jika diseru untuk berhukum dengan hukum Allah.

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan ‘kami mendengar dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (TQS. An Nur; 51)

Kedua, perjuangan Islam kaffah dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umat dunia dan akhirat. Sebab, memperjuangkan syri’at islam kaffah bukan hanya sekedar ingin menegakkan hukum hudud, potong tangan, rajam, hukuman mati dan lain sebagainya. Tetapi, seruan penegakan Islam kaffah adalah untuk mewujudkan kemaslahatan hidup manusia yang adil dan sejahtera.


Ketiga, tidak bisa dipungkiri bahwa kekuatan umat Islam yang sangat ditakuti oleh kapitalis barat adalah diterapkannya Syari’at Islam secara kaffah. Sebab, tanda kemenangan umat Islam adalah jika umat ini telah sukses menjadikan Islam tidak hanya sebagai sebuah agama ruhiyah (spiritual) melainkan juga menjadi agama siyasiyah (politik), dan inilah yang dimaksud dengan Islam kaffah (sempurna). Dengan kembalinya Islam kaffah, maka kembali pulalah ideologi Islam ke pemiliknya yaitu umat Islam. Hal ini juga yang akan mengalahkan penjajahan kapitalis barat dengan berbagai ide-ide sesat yang mereka jajakan pada umat ini, termasuk ide Islam moderat ke negeri-negeri muslim saat ini.  Dan Allah SWT telah menggambarkan tentang kondisi tersebut.

“.Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk mengalahkan agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridlai Islam sebagai agama bagimu.” (TQS. Al Maidah ;3)

Sungguh jelas terlihat kemenangan Islam telah mendekati umatnya. Maka, bersegeralah bergabung dalam barisan perjuangan Islam Kaffah dan tetaplah istiqomah sampai Allah SWT menurunkan pertolonganNya dengan tegaknya Institusi politik yang akan memayungi negeri ini menjadi negeri yang ‘Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafuur’, Khilafah Islamiyah ‘ala minjahin Nubuwwah.[Mo/an] MEDIAOPOSISI






Promo