728x90 AdSpace

Surat Cinta Penguasa Nusantara Dari Kerajaan Sriwijaya hingga Kesultanan Aceh pada Khalifah


Kontak paling awal antara penguasa di kepulauan Hindia (nama lain Nusantara) dengan kekhilafahan Islam di Timur Tengah bermula sejak masa Khilafah Bani Umayah yang kala itu di pimpin oleh Khalifah Mu’awiyah. Kehadiran Muslim Timur Tengah ke Kepulauan Hindia pada masa-masa awal pertama kali disebutkan oleh pengembara terkenal Cina, I-Tsing yang pada 51 H/617 M sampai di Palembang yang saat itu merupakan ibukota kerajaan Budha Sriwijaya.

Mereka yang berada di Kepulauan Hindia merupakan para pedagang yang kaya dan memiliki kekuatan ekonomi. Dalam pandangan Azyumardi Azra, interaksi mereka di Palembang merupakan salah satu faktor penting pendorong raja Sriwijaya mengirim surat kepada Khalifah Bani Umayah.



Ketika Khilafah diperintah Bani Umayyah (660-749 M), sejumlah wilayah di Kepulauan Hindia masih berada dalam kekuasaan Kerajaan Hindu-Budha. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan Budha di Kepulauan Hindia yang tercatat memberikan pengakuan terhadap kebesaran Khalifah. Pengakuan ini dibuktikan dengan adanya dua pucuk surat yang dikirim oleh raja Sriwijaya kepada Khalifah di zaman Bani Umayyah. Surat pertama dikirim kepada khalifah Mu’awiyah, dan surat kedua dikirim kepada khalifah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz.

Surat pertama ditemukan dalam sebuah diwan (sekretaris) khalifah Mua’awiyah dan memiliki gaya tipikal surat-surat resmi penguasa Kepulauan Hindia. Diriwayatkan pembukaan surat tersebut:

    “Dari Raja al-Hind (Kepulauan India) yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani seribu putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar (Batanghari dan Musi), yang mengairi pohon gahana (aloes), kepada Mu’awiyah…”

Surat kedua, yang mempunyai nada yang sama, tetapi jauh lebih lengkap. Surat yang ditunjukan kepada Khalifah ‘Umar bin ‘Abd Aziz itu menunjukkan betapa hebatnya Maharaja dan kerajaannya. Nu’aim bin Hammad menulis: “Raja al-Hind (Kepulauan) mengirim sepucuk surat kepada ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz, yang berbunyi sebagai berikut:

    “Dari Raja Diraja (Malik al-Malik = maharaja); yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga adalah anak cucu seribu raja; yang dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbubumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wewangiannya sampai menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab (‘Umar bin “Abdul-‘Aziz), yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya tentang hukumhukumnya (atau di dalam versi lain, yang akan mengajarkan Islam dan menjelaskannya kepada saya).

Turki dan dunia Melayu memiliki hubungan budaya, agama, dan sejarah yang kuat. Turki memainkan peran besar dalam kepulauan Melayu dalam menyebarkan Islam dan membantu orang-orang Melayu mempertahankan diri melawan kolonialisme Eropa dan pengaruh negatif berikutnya (dalam arti anti-Islam). Hubungan tercatat mulai intens pada abad ketiga belas masehi seiring dengan banyaknya orang-orang turki yang datang ke Asia Tenggara.

 
Negeri-negeri Utsmani dikenal di Asia Tenggara sebagai Rum, yaitu nama yang dipakai bangsa Arab untuk menyebut kekaisaran Romawi dan penerusnya di timur yang bernama Bizantium. Rum memainkan peranan penting dalam imajinasi Asia Tenggara, dan raja Rum menduduki posisi yang agung dalam kesusastraan Melayu, Aceh dan Jawa.

Aceh Darussalam, Kesultanan paling barat Kepulauan Hindia, telah melakukan kontak diplomatik dengan pemerintah Utsmani di Istanbul pada awal abad ke-16 dan bahkan tampaknya telah menjalin hubungan formal dengan pengakuan kekuasaan Sultan dan meminta dukungan militer dalam perang melawan Portugis.



Referensi:

A.Reid, 1969: “Sixteenth-century Turkish influence in Western Indonesia”, Journal of Southeast Asian History.

Azyumardi Azra, Jaringan ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII. Edisi Revisi (Jakarta: Prenada Media, 2004)

Ismail Hakkı Kadı, Annabel Teh Gallop and Andrew Peacock, ‘Islam, trade and politics across the Indian Ocean’, British Academy Review , 2009.

Martin van Bruinessen, Muslims Of The Dutch East Indies And The Caliphate Question, Studia Islamika (Jakarta), Vol. 2 no.3, 1995

Prof. Dr. Saim Kayadibi, Islamization of the Southeast Asia: The Role of Turks, Department of Economics, Kulliyyah of Economics and Management Sciences, International Islamic University Malaysia (IIUM)
www.seraamedia.org

Surat Cinta Penguasa Nusantara Dari Kerajaan Sriwijaya hingga Kesultanan Aceh pada Khalifah Reviewed by admin on November 07, 2018 Rating: 5 Kontak paling awal antara penguasa di kepulauan Hindia (nama lain Nusantara) dengan kekhilafahan Islam di Timur Tengah bermula sejak masa...