728x90 AdSpace

Puji China, India Bungkam Soal Penahanan Massal Muslim Uighur


India enggan berkomentar terkait penahanan massal Muslim Uighur di China selama sidang Universal Periodic Review (UPR) di Dewan Hak Asasi Manusia PBB (UNHRC) di Jenewa, pekan ini.

Australia, Inggris, Kanada, Belgia, Republik Ceko, Finlandia, Islandia, Irlandia, Swedia dan Swiss, Jerman dan Perancis juga bergabung dengan Amerika Serikat dalam mengkritik China di HRC PBB untuk penahanan massal Uighurs, Kazakh, dan minoritas Muslim lainnya di Wilayah Otonomi Xinjiang Uighur.

Wakil menteri luar negeri Cina Le Yucheng memimpin delegasi dari Beijing selama UPR. Dia membantah kritik oleh AS dan negara-negara lain, dengan berdalih bahwa pendirian kamp konsentrasi sebagai tindakan preventif untuk mencegah aksi terorisme.

Selama sidang, 13 negara mengkritik keras pemerintah China itu atas penahanan massal tersebut. Namun, India bungkam dan memilih untuk memuji China atas keberhasilannya dalam menurunkan tingkat pengangguran dan mengurangi kemiskinan di Tiongkok selama lima tahun terakhir.

Virender Paul, Wakil Tetap Perwakilan New Delhi untuk kantor-kantor PBB dan organisasi internasional lainnya di Jenewa, mempresentasikan pandangan India tersebut.

“India menghargai berbagai tindakan yang dilakukan oleh China dalam memastikan perumahan, layanan kesehatan publik dan tindakan khusus lainnya yang menargetkan perempuan, anak-anak, lansia dan penyandang cacat,” kata Paul, yang menyampaikan pernyataan New Delhi kepada UNHRC.

India juga memuji kemajuan yang dibuat oleh China dalam membawa pembangunan sosial-ekonomi, reformasi peradilan serta dalam mempromosikan pendidikan hak asasi manusia.


New Delhi memilih untuk tidak mengeluarkan suaranya dalam menentang Beijing. Hal ini seolah-olah untuk memastikan bahwa upaya untuk memperbaiki hubungan bilateral India-China tidak mengalami kemunduran.

Hubungan India yang kompleks dengan China menurun selama 72 hari pertempuran militer di Doklam Plateau di Bhutan barat. Kedua negara tetangga itu berusaha mengembalikan hubungan sejak awal tahun ini dengan serangkaian perjanjian tingkat tinggi, termasuk “pertemuan informal” antara Perdana Menteri Narendra Modi dan Presiden China Xi Jinping di Wuhan, China pada April dan dua pertemuan di sela-sela konklaf multilateral di Qingdao negara Asia Timur pada bulan Juni serta di Johannesburg di Afrika Selatan pada bulan Juli.

Modi dan Xi kemungkinan akan bertemu lagi di sela-sela KTT G 20 di Buenos Aires di Argentina akhir bulan ini.

KIBLAT
Puji China, India Bungkam Soal Penahanan Massal Muslim Uighur Reviewed by admin on November 07, 2018 Rating: 5 India enggan berkomentar terkait penahanan massal Muslim Uighur di China selama sidang Universal Periodic Review (UPR) di Dewan Hak Asasi...