728x90 AdSpace

Penghargaan Simbol Keagamaan Jadi Bahasa Universal


Hukuman ringan terhadap pelaku pembakaran bendera tauhid dinilai bertolak belakang dengan perkembangan di belahan dunia lain, yang justeru makin menghormati simbol-simbol keagamaan.

Direktur Pusat Studi dan Pendidikan HAM Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (Pusdikham Uhamka) Maneger Nasution menilai kasus pembakaran bendera tauhid yang dilakukan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dikenai pasal penodaan agama. Dia menyayangkan vonis ringan berupa 10 hari penjara kepada pelaku, yang dianggap melanggar pasal 174 tentang menggaggu ketertiban umum.

“Tentu kita menyayangkan karena melihat substansi dari perkara ini bukan perkara biasa. Ini bukan tindak pidana ringan yang boleh dimaknai sesederhana itu,” ujar Maneger kepada Kiblat, Rabu (07/11/2018).

Sanksi ringan kepada pelaku pembakaran bendera tauhid bertolak belakang dengan tren yang berkembang di belahan dunia lain, yang makin menghormati simbol-simbol keagamaan. Eropa, contohnya, baru-baru ini telah menetapkan aturan penghinaan terhadap Nabi Muhammad sebagai perbuatan kriminal, bukan lagi kebebasan berekspresi.

“Artinya, orang mulai menyadari bahwa penghargaan terhadap simbol-simbol keagamaan orang lain itu menjadi bahasa universal,” ujar Maneger.

Menurutnya, masyarakat Indonesia harusnya jauh lebih sensitif terkait sikap penghormatan tersebut. “Bahwa tidak boleh dengan dalih kebebasan berpendapat lalu menghina keyakinan orang,” tandasnya.

KIBLAT
Penghargaan Simbol Keagamaan Jadi Bahasa Universal Reviewed by admin on November 09, 2018 Rating: 5 Hukuman ringan terhadap pelaku pembakaran bendera tauhid dinilai bertolak belakang dengan perkembangan di belahan dunia lain, yang juster...