MUHASABAH! Ketika Hijrah Tergoda Wanita dan Gemerlap Dunia! Pelajaran dari Kisah Muhajir Ummu Qois






Hijrah di dalam Islam memiliki dua makna. Pertama meninggalkan negeri kufur menuju negeri Islam, kedua meninggalkan apa-apa yang diharamkan Allah SWT menuju kepada ketaatan. Namun di era sekarang, banyak yang memaknai hijrah sebagai perpindahan orientasi dan penampilan seseorang untuk memperbaiki diri. Dari yang awalnya penuh maksiat menjadi taat, dari yang awalnya kurang ilmu agamanya kepada memperdalam ilmu agama.

Tidak ada masalah dengan istilah itu, karena yang menjadi penting dalam hijrah adalah niatnya. Banyaknya pemudah hijrah yang akhirnya kembali pada kehidupan awalnya, bisa jadi itu karena niat yang salah. Ada juga yang merasa sulit untuk istiqomah, bisa jadi itu karena niat yang salah. Karena niat seseorang akan mempengaruhi hasil akhir dari yang dikerjakan, terutama hijrah.

Pelajaran dari Kisah Muhajir Ummu Qois

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadistnya menerangkan betapa pentingnya niat dalam hijrah. Beliau menerangkan bahwa amalan seseorang itu bergantung dari niatnya, hijrah adalah amalan penting yang patut dijaga niatnya. Karena rusaknya hijrah seseorang bergantung dari niat awalnya.

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, mkaa hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju”. (HR. Bukhori no.1 dan Muslim no. 1907)

Hadist ini berbicara tentang niat, bahwa setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian melanjutkan keterangannya dengan menjadikan hijrah sebagai permisalan. Karena, ada yang hijrah dari Makkah ke Madinah dengan tujuan untuk menikahi seorang perempuan.

Kisahnya diterangkan oleh Ibnu Rajab rahimahullah :

عن شقيق – هو أبو وائل – قال: خطب أعرابي من الحي امرأة يقال لها: أم قيس، فأبت أن تزوجه حتى يهاجر، فهاجر، فتزوجته، فكنا نسميه مهاجر أم قيس.

“Dari Syaqiq, Abu Wail, berkata, “Salah seorang lelaki Arab keturunan Bani al-Hayyi mengkhitbah seorang perempuan yang dipanggil : Ummu Qois. Namun Ummu Qois menolaknya kecuali lelaki tersebut hijrah. Maka hijrahlah dia (ke Madinah), kemudian menikahinya. Karena itu, para sahabat menyebutnya dengan Muhajir Ummu Qois.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1/74-75)

Hadist tentang niat di atas menerangkan bahwa hijrah adalah ibadah, yang bisa berubah nilainya sesuai dengan niatnya. Sebagian manusia, ada yang meniatkan hijrahnya untuk ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah dan ada pula yang meniatkan hijrahnya untuk mendapatkan wanita, seperti yang terjadi pada Muhajir ummu Qois. Niat hijrah untuk menikahi seorang perempuan merupakan niat duniawi. Maka, siapa yang berhijrah dengan tujuan duniawi dan meninggalkan pahala akhirat, maka dicela sebagaimana yang terjadi pada Muhajir Ummu Qois.

Pengaruh Niat dalam Hijrah

Selain itu, hadist di atas menerangkan bahwa hijrah itu bermacam-macam sesuai dengan tujuan dan niatnya. Siapa yang hijrah ke negeri Islam karena kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya, ingin memperdalam ilmu agamanya dan ingin menampakkan agamanya karena ia tidak mampu lakukan itu di negeri Syirik, maka ini lah Muhajir kepada Allah dan Rasul-Nya yang sesungguhnya. Ia layak menyandang kemuliaan dan penghormatan atas keberhasilannya mendapatkan apa yang ia niatkan dari hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya.

Hal itu karena, mendapatkan ridha Allah dan sanjungan Rasul-Nya merupakan tujuan akhir dari perjalanan hidup manusia di dunia dan akhirat. Jika seseorang melakukan perjalanan hijrah dari negeri syirik ke negeri Islam dengan tujuan untuk mendapatkan duniawi, maka ini adalah seorang pedagang. Jika seseorang melakukan perjalanan hijrah dari negeri syirik ke negeri Islam dengan tujuan untuk menikahi seorang perempuan, maka ini adalah seorang yang melamar.

Allah telah menggambarkan orang-orang yang semacam ini dalam ayat-Nya :

مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الآخِرَةَ‏

“Diantaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.” (QS. Ali Imran : 152)

Dan firman Allah yang lain :

‏تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الآخِرَةَ‏

“Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu).” (QS. Al-Anfal : 67)

Niat adalah tolak ukur baik dan rusaknya ibadah. Sesuai penjelasan hadist di atas, hijrah adalah ibadah. Allah tidak akan menerima ibadah seorang hamba kecuali ikhlas karena mengharap ridha Allah semata. Allah tidak membutuhkan ibadah yang dilakukan untuk tujuan duniawi, bahkan Allah tidak memberikan balasan apapun nanti di akhirat.

‏مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ‏.‏ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ‏

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud : 15)

Inilah pengaruh niat dalam ibadah, selain menentukan baik dan rusaknya ibadah, niat juga dapat mempengaruhi besar dan kecilnya pahala. Semakin murni keikhlasannya, maka semakin besar pahala yang didapat, walau amalan yang dikerjakan itu ringan. Semakin kecil kadar ikhlasnya, walau amalan yang dilakukan itu besar, maka maka semakin kecil pula pahala yang diperoleh. Wallahu a’lam bish showab.

kiblat.net






Promo