-->

Kunci Kesuksesan Itu Bernama Sabar, Baik terhadap yg Dicintai maupun Dibenci!, Ingat ketika Fir’aun Berkuasa…??!






Ketika Firaun berkuasa, bani Israel benar-benar dihinakan, mereka hidup sebagai warga kelas bawah yang statusnya disetarakan dengan budak belian. Konon ketika ada seorang Qibthi hendak membawa barang bawaan, alih-alih mencari kuda atau keledai, mereka malah memanggil salah seorang di antara bani Israel untuk mengangkat dan memikulnya.

Kondisi tersebut berlangsung cukup lama hingga kedatangan seorang Musa ‘alaihissalam di tengah-tengah mereka. Dengan penuh kesabaran Musa ‘alaihissalam membimbing mereka untuk mengenal tauhid serta menjadikan kalimat “Laa Ilaaha illallaah” sebagai fondasi keyakinan mereka.

Allah ta’ala pun menceritakan kondisi bani Israel dalam firman-Nya:

وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۖ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا ۖ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

“Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. Al A’raf: 137)

Allah ta’ala memberikan kekuasaan kepada Bani Israel, dikarenakan kesabaran mereka. Huruf ba’ pada kalimat bima shobaruu merupakan ba’ sababiyah, artinya: disebabkan kesabaran yang mereka miliki, maka Allah memberi kekuasaan kepada mereka di muka bumi, dan mewariskan kepada mereka negeri yang telah diberkahi; Palestina.

Bani Israel memasuki negeri tersebut sepeninggal Musa ‘alaihissalam, mereka memasukinya bersama Dawud ‘alaihissalam dan Sulaiman ‘alaihissalam. Mereka pun memerintah Palestina dengan dasar tauhid. Dengan kalimat tauhid pula, bani Israel berhak mewarisi Mesir setelah Firaun ditenggelamkan oleh Allah ta’ala karena menindas serta melalimi ahli tauhid.

Satu pelajaran yang bisa dipetik dari sepenggal kisah bani Israel di atas; bahwa Allah telah mengumumkan busyro atau kabar gembira bagi siapapun yang bersabar dalam kehidupannya dan tidak pernah berhenti menaruh sebuah harapan besar, bahwa Allah ta’ala akan membuka berbagai jalan kemudahan serta mendatangkan kemenangan bagi mereka.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يَوَدُّ أَهْلُ العَافِيَةِ يَوْمَ القِيَامَةِ حِيْنَ يُعْطَى أَهْلُ البَلَاءِ الثَوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُوْدَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ فِيْ الدُّنْياَ بِالمَقَارِيضِ

“Ketika ahlul bala’ menerima pahala pada hari kiamat, ahlul ‘afiyah sangat menginginkan seandainya kulit mereka dipotong-potong dengan gunting.” (HR. At Tirmidzi)

Ahlul bala’ adalah sebutan bagi mereka yang ketika hidup di dunia banyak mendapatkan cobaan dari Allah ta’ala. Dalam sebuah hadits hasan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan bahwa ahlul bala’ memasuki surga tanpa melewati proses hisab, maka ahlul ‘afiyah atau orang-orang yang tidak banyak mendapat cobaan semasa hidupnya pun bertanya, “Apa gerangan dengan kalian, sehingga amal perbuatan kalian tidak dihisab?”. Mereka menjawab, “Dahulu kami bersabar dalam menghadapi cobaan dan ridha dengan ketentuan-Nya.” Maka ahlul ‘afiyah pun berangan-angan seandainya dulu di kehidupan dunia kulit mereka dipotong-potong dengan gunting, mereka pun akan ridha dengan cobaan tersebut.

Dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menceritakan bahwa di hari kiamat kelak datanglah seorang yang ketika di dunia hidupnya bergelimang kenikmatan, lalu dia dicelupkan ke neraka dengan satu kali celupan, kemudian dia ditanya, “Hai fulan, apakah kamu pernah merasakan kesenangan?” Dia menjawab, “Tidak, aku belum pernah sekalipun mengecap kesenangan.”Kemudian didatangkan seorang yang ketika di dunia hidupnya paling sengsara dan paling sering mendapat musibah. Lalu dia dicelupkan di surga dengan satu kali celupan, kemudian ditanya, “Hai fulan, apakah kamu pernah merasakan penderitaan?” Dia pun menjawab, “Tidak, aku sama sekali tidak pernah merasakan penderitaan apapun.”

Mari kita renungkan, cukup satu celupan di surga, seseorang lupa dengan segala macam penderitaan yang pernah dialaminya di dunia. Hanya dengan satu celupan, segala macam kesulitan dan musibah selama 60 tahun atau 70 tahun terlupakan begitu saja. Betapa rendahnya segala macam cobaan dunia ketika dihadapkan kenikmatan surga yang hakiki.

Allah ta’ala berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)

Maka sudah sepantasnya seorang muslim menjalani kehidupannya di dunia dengan kesabaran yang menyeluruh. Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi larangan Allah, sabar dalam menerima ketentuan Allah, sabar dalam menjaga dan menggunakan nikmat Allah.

Sabar Terhadap Sesuatu yang Disukai

Berdasarkan objeknya, secara garis besar sabar terbagi menjadi dua. Sabar terhadap sesuatu yang disukai dan sabar terhadap sesuatu yang dibenci. Sabar terhadap sesuatu yang disukai jauh lebih sulit daripada sabar terhadap apa yang dibenci/tidak disukai hati. Maka dari itu sahabat Abdurrahman bin ‘Auf pernah mengatakan:

“Kami mampu bersabar tatkala diuji dengan kesempitan. Namun kami tidak mampu bersabar tatkala diuji dengan kelapangan.”

Maka Allah ta’ala pun mewanti-wanti kaum muslimin,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At Taghabun: 14)

Dr. Abdullah Azzam dalam Tarbiyah Jihadiyah menyebutkan ada empat perkara yang harus kita perhatikan pada sebuah kenikmatan yang diinginkan oleh hati, yaitu:

Tidak cenderung kepadanya.
Tidak terlalu bernafsu dalam mengumpulkannya, meskipun yang dikumpulkan tergolong hal yang mubah. Seperti harta dan makanan.
Menjaga dan memelihara hak-hak Allah yang ada padanya.
Menjauhi yang haram selama mencarinya.

Maka sekali lagi, sabar terhadap sesuatu yang kita sukai jauh lebih sukar dari sabar menghadapi musibah. Ketika mengingat akan segala nikmat yang telah kita peroleh, kita harus bersabar atasnya, yakni tidak lalai dari mengingat Allah karenanya, tidak cenderung kepadanya, dan tidak memandang remeh orang lain karenanya.

Sabar Terhadap Sesuatu yang Dibenci

Lalu sabar yang kedua adalah sabar terhadap sesuatu yang dibenci. Dr. Abdullah Azzam dalam Tarbiyah Jihadiyah membagi sabar yang kedua ini dalam tiga bagian:

Sabar ikhtiyari.
Sabar qahri.
Sabar ikhtiyari pada awal mulanya, dan menjadi qahri pada akhirnya, dikarenakan konsekuensi-konsekuensi dari pilihan tersebut ternyata berat dirasa sehingga seseorang menjadi terpaksa menjalani konsekuensi tersebut.

Sabar ikhtiyari merupakan sabar yang merupakan sebuah pilihan, di mana seseorang mempunyai kebebasan untuk memilih antara bersabar dan tidak. Sabar ikhtiyari terjadi ketika seseorang dihadapkan pada perintah dan larangan Allah, dia dapat memilih untuk bersabar ketika menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya, atau dia dapat memilih untuk tidak bersabar dan bermaksiat kepada Allah.

Sabar ikhtiyari dicontohkan dengan baik oleh Yusuf ‘alaihissalam ketika digoda oleh istri tuannya, kisah ini diabadikan dalam surat Yusuf ayat 23:

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

“Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini”. Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)

Mari kita renungkan, betapa luar biasanya Yusuf ‘alaihissalam yang ketika itu masih muda, perjaka, dan tentu saja beliau orang asing sehingga jikalau melakukan keburukan tidak akan ada nama keluarga yang khawatir tercoreng, namun beliau memilih untuk bersabar dan takut kepada Allah ‘azza wa jalla.

Adapun sabar qahri merupakan kesabaran dalam menghadapi musibah yang mesti dihadapi, yang manusia tidak bisa menolaknya dan tidak mempunyai pilihan selain bersabar menghadapinya. Seperti ketika Nabi Yusuf ‘alaihissalam dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, tidak ada pilihan bagi beliau selain bersabar menunggu pertolongan.

Namun sabar qahri ternyata mempunyai beberapa tingkatan, dalam artian ekspresi kepasrahan seseorang ketika tertimpa musibah ternyata berbeda-beda. Bagi manusia yang lemah akal dan lemah iman, dia hanya menangis, mengeluh, dan mengemis bantuan kepada manusia lainnya. Adapun bagi manusia yang mempunyai cukup keimanan, mereka akan menahan diri untuk mengeluh kepada manusia meskipun terkadang masih timbul rasa tidak puas terhadap takdir Allah yang sedang menimpanya. Sedangkan tingkatan yang tertinggi adalah orang-orang ridha terhadap segala ketentuan Allah yang menghampiri dirinya, mereka senantiasa memenuhi waktunya dengan khusnudzon terhadap Rabbul alamin dalam segala kondisi.

Penulis: Rusydan Abdul Hadi
kiblat.net






Promo