Ini Rahasia Nama Bulan-bulan dalam Islam: Refleksi Maulid Nabi Muhammad SAW







Agus Solikin (Dosen Matematika Falak FSH Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya)

Gusti Kanjeng Nabi Lahire Ono Ing Mekkah, Dinane Senen Rolas Maulud Tahun Gajah

Ingkang Romone Asmane Sayid Abdullah, Ingkang Ibune Asmane Siti Aminah

Panutan Kito Gusti Kanjeng Nabi, Allah Pengeran Kang Moho Suci


  Syair lagu di atas, adalah syair-syair yang sering penulis dengar dan lafalkan ketika menunggu datangnya imam sholat jamaah di sebuh mushola ketika penulis masih kecil. Syair  lagu ini masih juga tetap kami dengarkan ketika penulis pulang ke kampung halaman di sebuah desa di kabupaten Nganjuk Syair lagu tersebut, waktu penulis kecil seakan kurang memberikan makna yang terkandung didalamnya, karena syair lagu tersebut jika terjemahkan ke dalam bahasa indonesia kurang lebih “Nabi (Muhammad) Lahirnya Di Makkah, Hari Senin Tangga 12 Maulud Tahun Gajah. Ayah Beliau Bernama Sayid Abdullah, Sedangkan Ibunya Bernama Siti Aminah”

Terkait dengan syair lagu tersbut, baru penulis rasakan memberikan makna yang dalam jika dihubungkan dengan kajian ilmu falak yang diantaranya membahas tentang sistem penanggalan atau kaender. Selaras dengan ini, maka ada dua kata kunci yang ada dalam syair lagu tersbut, yaitu kata maulud dan tahun gajah. Maulud adalah nama bulan yang ada dalam kalender jawa Islam yang menempati urutan ketiga, atau nama bulan ini dalam kalender Islam disebut dengan Rabiul Awal. Penamaan ini tentu berkaitan dengan saat kelahiran (Maulid) Nabi Muhammad SAW. Sedangkan tahun gajah adalah tahun yang tidak bisa dilepaskan dengan peristiwa pasukan Abrahah berkendaraan gajah dan ingin menghancukan Ka’bah.

Berdasarkan dua kata kunci ini, penulis bermaksud untuk mengupas makna tersirat atau rahasia yang tersbimpan dalam syair tersebut. Guna mencapai tujuan tersbut, maka pembahasan dalam tulisan ini akan dimulai dengan sejarah kalender Islam dan kalender  jawa Islam.

Sejarah kalender Islam
Guna memahami tentang sejarah kalender Islam, maka penulis meyakini bahwa seorang Muslim tentunya sangat hafal bahwa Nabi Muhammad SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul Awaltahun gajah. Berdasarkan hal ini, dapat diasumsikan bahwa nama bulan sudah ada sebelum Islam itu lahir.

Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Ruswa (tenaga pengajar di UMS) dalam bukunya, yang menjelaskan bahwa nama bulan sudah ada, namun untuk tahun belum. Nama-nama bulan yang ada dalam kebudayaan bangsa Arab sebelum Islam datang yaitu dimulai dengan bulan Muharam, Pada bulan ini disepakati haram melakukan peperangan, Bulan berikutnya dinamai Shafar yang memiliki akar makna kuning, hal ini sangat berhubungan dengan tanda alam di Arab yaitu terjadinya daun menguning,
BACA JUGA  Ketika Bro and Sis PSI Ikut Mengusung Politik Islamophobia

Setelah daun menguning, maka daun-daun akan gugur atau jatuh, sehingga nama bulannya yaitu Rabi’, karena terjadi dua kali maka dinamai Rabi’ul Awwal dan Rabi’ul Akhir. Setelah terjadi musim gugur, maka fenomena alam berikutnya yaitu musim dingin atau beku (Jumad), sehingga dinamai Jumadil Awwal dan Jumadil Akhir karena juga terjadi dua bulan. Berikutnya, salju di tanah Arab  mulai mencair sehingga diberi nama Rajab (mencair), Musim semi saat untuk turun ke lembah bercocok tanam terjadi bulan dinamai Sya’ban yang berasal dari kata Syi’b yang artinya lembah.

Bulan berikutnya Matahri terasa mulai membakar kulit dan meningkat. Oleh karena itu dinamai Ramadhan (pembakaran) dan Syawwal (peningkatan). Bulan selanjutnya merupakan puncak musim panas, membuat orang lebih suka duduk di rumah daripada bepergian, dinamai Dzul-Qo’idah (qa’id artinya duduk)., Bulan terakhir masyarakat Arab menunaikan ibadah agama nenek moyang mereka Ibrahim a.s., yaitu  berupa ibadah haji. Bulan ini dinamai Dzul-Hijjah.

Menarik diketahui, bahwa nama bulan yang ada di Arab sebelum Islam datang yaitu dikenal adanya bulan ketiga belas. Munculnya bulan ketiga belas, hal ini terjadi karena

    Dalam satu tahun jumlah hari ditetapkan berjumlah 365 atau 366 hari, sebagaimana jumlah dalam kalender Masehi,
    Sedangkan pergantian bulan, budaya orang arab mengikuti pergantian bulan yang jumlah harinya dalam satu bulan 29 atau 30 hari,
    Dua hal di atas, yang membuat selisih setiap tahunnya 10 hari, selisih ini yang kemudian dikumpulkan, sehingga setelah tiga tahun menjadi 30 hari atau satu bulan. Sisa ini yang ditambahkan sehingga menjadi satu tahun kadang kala 13 bulan.

Paparan di atas ini adalah warisan kebudayaan orang Arab terkait kalender. Ketika ajaran Islam datang nama-nama bulan itu ternyata tidak diganti oleh Rasulullah SAW. Sebaliknya, yang dihapus oleh Rasulullah SAW ialah budaya penanggalan yang dipakai pada zaman jahiliyah. Penanggalan dalam budaya orang jahiliyah, dalam satu tahun terdiri dari 12 bulan atau kadangkala 13 bulan. Budaya penanggalan ini, yang kemudian dirubah oleh Rasulullah dengan penetapan jumlah dalam satu tahun yaitu 12 bulan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS At-taubah ayat 36, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah 12 bulan, dalam ketetapan Allah.”
BACA JUGA  Sanksi AS Tidak Ditujukan untuk Menjatuhkan Pemerintah Iran

Hikmahnya, ajaran atau budaya yang tidak beetntangan dengan syariat tidak dihapus oleh Rasulullah, sedangkan yang bertentangan dengan ajaran Islam baru mendapat perubahan.

Sejarah kalender Jawa Islam

Dalam budaya Jawa, sebelum datangnya agama Islam yang masuk ke nusantara telah lama dikenal sistem penanggalan Jawa. Penanggalan Jawa sangat lekat dengan unsur agama Hindu dan budaya India yang dikenal dengan penanggalan saka. Berikut ini nama-nama bulan, dan hari dalam penanggalan saka.

    Nama bulan: Caitra, Waisaka, Jyestha, Asadha, Srawana, Bhadrawada, Aswina (Asuji), Kartika, Margasira, Posya, Magha, Palguna.
    Nama hari Raditya, Soma, Anggara, Budha, Brehaspati, Sukra, Sanaiscara
    Nama- nama bulan disesuaikan dengan sifat orang Jawa

Seiring dengan masuknya ajaran Islam ke nusantara, maka budaya penanggalan dalam Islam juga dibawa oleh para ulama dan pedagang yang mengajarkan Islam ke tanah Jawa. Akibatnya, terjadi akulturasi dan penyerapan budaya dalam sistem penanggalan dan kalender Islam Jawa.

    Muharam sering disebut Sura terkait 10 Muharam sebagai hari Asyura.
    Rabingulawal dijuluki Mulud sesuai kelahiran Nabi SAW. Rabingulakir dijuluki Ba’da Mulud (Silihmulud).
    Saban dinamai Ruwah karena dipakai untuk mendoakan arwah keluarga yang telah wafat, untuk menyambut bulan Pasa (Ramadhan, Ramelan).
    Dulkangidah disebut Hapit atau Sela karena diantara dua hari raya.
    Dulkijah sering dinamai bulan Haji atau Besar atau Rayagung, saat berlangsungnya Ibadah haji.

    Nama hari diganti oleh Sultan Agung menjadi Ahad, Senen, Seloso, Rebo, Kemis, Jumuwah, Saptu.
    Konsep Pancawara yang diyakini budaya asli Jawa, bukan dari Saka (India) tetap dilestarikan, yaitu Pahing, Pon, Wage, Kliwon (Kaliwuan), Legi (Umanis).

Cukup luar biasa para pendahulu kita dalam mengajarkan Islam kepada kita, mereka mewariskan nilai untuk menghargai budaya tanpa memaksa.






Promo