-->

Politikus Golkar: Aksi Penghadangan Nusron Wahid Itu Persekusi, Nusron Ogah Melaporkan Karena Terjadi di Makam Kramat







Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Dave Laksono menyayangkan aksi penghadangan anggota partainya, Nusron Wahid, oleh sekelompok massa saat berziarah ke makam Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Menurut dia, hal itu termasuk tindakan persekusi.

"Yang pasti segala macam bentuk persekusi itu melanggar hak asasi manusia," ujar Dave di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu, 27 Oktober 2018.

Penghadangan oleh massa terhadap Nusron Wahid terjadi saat ia berziarah ke makam Luar Batang pada Jumat, 26 Oktober 2018. Menurut Nusron, saat tiba di Luar Batang pukul 10.30, tiba-tiba ada yang berteriak 2019 ganti presiden serta teriakan Banser menyusup.

Saat Nusron keluar makam, sekelompok orang sudah berada di depan masjid sambil membentangkan bendera hitam bertulisan lafadz tauhid, seperti yang kerap dipakai HTI. "Saya cuekin dan sapa dengan senyum. Karena mereka makin brutal, ada beberapa pengurus masjid dan sejumlah Habib membantu saya. Mereka mengusir dan membubarkan kerumunan itu. Terus saya pulang. Itu saja," kata Nusron.

Dave menuturkan tindakan sekelompok massa itu tak layak dilakukan terhadap Nusron. Menurut dia, hal tersebut merupakan tindakan menghakimi orang secara beramai-ramai. "Untung Pak Nusron tidak sampai terluka. Kalau sampai terluka itu orang bisa dikenakan pidana," ujarnya.

Meski demikian, kata Dave, Nusron tak mau memperpanjang persoalan dengan melaporkan ke aparat berwajib. Namun dia menilai kepolisian harus bertindak dan memastikan agar kejadian persekusi ini tidak berulang kembali. "Persekusi hampir sama dengan bulying online, menyerang orang hanya karena beda pendapat, beda pandangan. Nah inilah yang di era demokrasi hari ini," ujarnya.

Menurut Nusron Wahid, penghadangan itu adalah kali pertama yang dialaminya sejak rutin mengunjungi makam mulai 2016 lalu. Terkait kasus ini, Nusron mengatakan dirinya tidak akan melapor ke polisi atau pihak manapun. Sebab, peristiwa itu terjadi di masjid dan makam Kramat Habib Husain bin Abu Bakar Luar Batang. "Kita hormati kemuliaan masjid dan makam," ujar Nusron.

Pukul 11.45, Nusron keluar makam dan tiba-tiba di depan masjid sudah ada kerumunan orang sambil membentangkan bendera hitam bertulisan lafadz tauhid, seperti yang kerap dipakai HTI. "Saya cuekin dan sapa dengan senyum. Karena mereka makin brutal, ada beberapa pengurus masjid dan sejumlah Habib membantu saya. Mereka mengusir dan membubarkan kerumunan itu. Terus saya pulang. Itu saja," ujar Nusron.

TEMPO






Promo