728x90 AdSpace

NU-Muhammadiyah Tak Lagi Beda Ijtihad soal Pembakaran Bendera! Semua Menyesalkan Terjadinya Pembakaran Bendera


Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Helmy Faishal Zaini menyatakan sudah tidak ada lagi perbedaan pendapat dan pandangan dengan Pengurus Pusat Muhammadiyah terkait pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid. Kesamaan pandangan juga terbentuk dengan ormas-ormas Islam lainnya.

Helmy mengatakan hal tersebut usai menghadiri pertemuan dengan perwakilan PP Muhammadiyah dan ormas Islam lainnya di rumah dinas Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteng, Jakarta, Jumat malam (26/10).

"NU dan Muhammadiyah sepakat bersama elemen bangsa lainnya untuk mengakhiri segala dendam, kebencian dan permusuhan dalam peristiwa Garut," tutur Helmy kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat.

NU dan Muhammadiyah bersama ormas Islam lainnya sepakat untuk berperan dalam meredam emosi masyarakat yang tidak terima dengan pembakaran bendera di Garut oleh anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser). NU, Muhammadiyah, beserta ormas lainnya juga setuju untuk tidak mempebesar masalah tersebut demi persatuan dan kesatuan, serta Indonesia yang damai.

"Indonesia harus tumbuh menjadi bangsa yang besar dan unggul dengan semangat kebersamaan," ungkap Helmy.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) berharap tidak ada lagi aksi protes di berbagai daerah.

"Kami harapkan ini menjadi langkah tetap menjalankan keinginan damai dengan penuh kedamaian," kata JK di kediamannya.

Sebelumnya, PBNU dan PP Muhammadiyah memiliki perbedaan pendapat perihal status bendera yang dibakar oleh anggota Banser di Garut pada Senin lalu (22/10). PBNU, beserta GP Ansor menyatakan bahwa bendera yang dibakar adalah bendera ormas yang telah dilarang di Indonesia, yakni Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).



Hal itu diutarakan oleh Ketua PBNU Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, serta Ketua GP Ansor Yaqut cholil Qoumas.

"Bahwa yang dibakar itu adalah bendera HTI. MUI dan Muhammadiyah jangan serta merta bilang yang dibakar itu kalimat tauhid. Itu sama dengan menyebarkan keresahan," ucap Helmy di kantor PBNU, Jakarta, Rabu (24/10).

Di lain pihak, PP Muhammadiyah menyebut bendera yang dibakar adalah bendera bertuliskan syahadat. Hal itu diutarakan oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti melalui siaran pers.

"Pembakaran bendera yang di dalamnya bertuliskan kalimat syahadat seharusnya tidak perlu terjadi," katanya. (agi)


Lima Sikap Pimpinan Ormas Islam soal Pembakaran Bendera di Garut

Sejumlah pimpinan ormas Islam di Indonesia berkumpul di rumah dinas Wakil Presiden Jusuf Kalla, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat malam 26 Oktober 2018.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar dua setengah jam tersebut, sejumlah pimpinan ormas Islam melakukan musyawarah dan berbincang serius untuk membuat pernyataan bersama terkait masalah pembakaran bendera di Garut, Jawa Barat.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, dalam perbincangan dan musyawarah Jumat malam ini ada sejumlah pernyataan bersama yang dibuat seluruh pimpinan dari ormas Islam yang hadir.

Adapun penyataan bersama itu antara lain:

Bismillahirrahmanirrahim, mengamati secara saksama peristiwa pembakaran bendera yang terjadi di Kecamatan Limbangan, Garut, Jawa Barat, kami pimpinan ormas Islam menyatakan pernyataan sebagai berikut:

1. Mengingatkan bangsa Indonesia untuk selalu menyelesaikan masalah dengan sikap musyawarah dan saling pengertian, serta menjaga nilai luhur bangsa.

2. Para pimpinan ormas Islam menyesalkan terjadinya pembakaran bendera dan sepakat menjaga suasana kedamaian serta meredam situasi agar tidak berkembang ke arah yang tidak diinginkan.

3. Dalam menyelesaikan masalah ini, oknum yang membakar dan yang membawa bendera telah sampaikan permohonan maaf. Dan kemudian GP Ansor akan memberikan sanksi atas perbuatan melampaui prosedur dan berharap tidak terulang lagi.

4. Menyerukan masyarakat untuk tidak memperpanjang masalah dan menjaga upaya adu domba. Mengajak masyarakat menahan diri agar tidak perbesar masalah. Umat Islam juga ditekankan untuk lebih menjalankan dakwah Islamiah.

5. Apabila terdapat pelanggaran hukum atas peristiwa ini diserahkan sepenuhnya kepada Polri untuk diselesaikan secara hukum.

Dari pantauan VIVA, terlihat hadir pimpinan ormas Islam seperti Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua Umum Syarikat Islam Hamdan Zoelva, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, dan Ketum Persis Maman Abdurrahman.

Hadir juga Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Mensesneg Pratikno, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketum MUI KH Ma'ruf Amin, Sekjen MUI, dan Bendahara Umum PP Muhammadiyah Anwar Abbas.

CNN Indonesia/Viva
NU-Muhammadiyah Tak Lagi Beda Ijtihad soal Pembakaran Bendera! Semua Menyesalkan Terjadinya Pembakaran Bendera Reviewed by admin on October 26, 2018 Rating: 5 Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Helmy Faishal Zaini menyatakan sudah tidak ada lagi perbedaan pendapat dan pandangan dengan Penguru...