728x90 AdSpace

Daftar 200 Mubaligh Kemenag Dicurigai Kental Bermuatan Politis, Pro Jokowi-Ahok VS Pendukung ABI Dalam Daftar


Daftar 200 nama mubaligh yang disusun dan direkomendasikan Kementerian Agama (Kemenag) dicurigai lebih kental bermuatan politis dibanding tujuan keagamaannya.

Sebab, selain dari 200 nama itu terdapat nama ulama pendukung Presiden Jokowi dan Ahok, juga tidak ada  nama-nama ulama inisiator dan pendukung Aksi Bela Islam (ABI).

Nama ulama pendukung Jokowi-Ahok di antaranya adalah Helmy Hidayat, Quraish Shihab dan Said Aqil Siradj, sementara ulama inisiator dan pendukung ABI yang tidak masuk daftar selain Ustad Abdul Somad (UAS) adalah Habib Rizieq Shihab, Felix Siauw, Ali Hidayat, Haikal Hasan, Ustad Arifin Ilham dan Bachtiar Nasir.

Tudingan kalau daftar itu berbau politik dilontarkan akun @monot0ne.

"Daftar 200 ustadz rekomendasi @lukmansaifuddin indikasinya berbau politik, karena isinya didominasi kaum liberalis dan para pembela cebong (julukan untuk pendukung Presiden Jokowi, red)," katanya seperti dikutip harianumum.com, Sabtu (19/5/2018).

Seperti menguatkan tudingan akun tersebut, Edy A Effendi, wartawan senior yang juga dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah berkicau tentang nama Helmy Hidayat yang masuk dalam daftar tersebut.

"Helmy Hidayat nomor 86 ini Jokower dan Ahoker kelas berat. Silakan cek status FB-nya. Gagal nyaleg dari PDIP. Ini teman sekelas @lukmansaifuddin di Gontor. Status-statusnya amat nyinyir ke kawan-kawan dan ulama yang aktif ikut ABI. Masuk kriteria Menag? Duhh," katanya melalui akun @eae18.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah juga meradang karena nama-nama pendukung ABI tak ada dalam daftar tersebut.

"Di negara muslim terbesar gini masak susah amat menerima Islam? UAS, Habib Rizieq dll semua #AntiTeroris tapi semua punya hubungan jelek dengan istana. Harusnya mereka kan menjadi mitra lawan teroris, eh malah dimusuhi dan dicurigai. Aneh kan?" kata mantan politisi PKS itu melalui akun Twitter @Fahrihamzah.

Pengacara Achmad Supyadi melalui akun @adv_supyadi bahkan dengan gemas bertanya begini: "Saya mau tanya kepada Menteri Agama @lukmansaifuddin tentang dasar hukumnya Kementerian Agama membuat daftar mubaligh/penceramah Islam Indonesia seperti ini apa? Acuan yuridisnya di pasal berapa? Undang-undang nomor berapa? Tahun berapa?"

Seperti diketahui, daftar itu dirilis Jumat (18/5/2018) melalui laman kemenag.go.id. Tak lama setelah diberitakan media, warganet kontan bereaksi karena nama UAS tak ada daftar. Terlebih setelah daftar 200 nama mubaligh itu dipelajari, nama Felix Siauw, Adi Hidayat, Ustad Arifin Ilham, Zulkifli Ali, Bahtiar Nasir  dan Habib Rizieq Shihab tak ada dalam daftar. Warganet makin nyaring berkicau.

"Efek samping dari daftar rekomendasi Kemenag adalah orang mengira isinya adalah ulama-ulama gak baik. Padahal gak bisa pukul rata. Ini karena reputasi Kemenag yang sekarang kurang bagus. Jadi, rekomendasi saya; daftar itu gak usah dihiraukan. Umat tahu ulama mana yang berpihak pada agama ini kok," kata Ustad Akmal Sjafril yang namanya juga tak ada dalam daftar, melalui akun Twitter @malalmalakmal.

Warganet pun akhirnya berpendapat miring tentang daftar itu.

"Kalau saya melihat dengan adanya daftar ini malah hanya pengkotak-kotakkan yang akan memecah belah antarumat dan antarmubaliq .... ya Allah pak @lukmansaifuddin semoga engkau bisa pertanggungjawabkan ini dunia dan akhirat," tegas akun @Dwimesse_Dwi.

Namun soal tidak masuknya nama UAS, Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Khoiruddin, mengatakan, nama UAS tak masuk karena yang bersangkutan tak bersedia dimasukkan dalam daftar.

"Awalnya ada (masuk daftar). Beliau tidak bersedia untuk dimasukkin. Karena tanpa dimasuki sudah banyak yang panggil. Jadwal padat hingga dua tahun ke depan," katanya seperti dilansir ROL. (man)

HARIANUMUM.COM, 19/5/2018
Daftar 200 Mubaligh Kemenag Dicurigai Kental Bermuatan Politis, Pro Jokowi-Ahok VS Pendukung ABI Dalam Daftar Reviewed by admin on May 19, 2018 Rating: 5 Daftar 200 nama mubaligh yang disusun dan direkomendasikan Kementerian Agama (Kemenag) dicurigai lebih kental bermuatan politis dibanding...