728x90 AdSpace

Penguasa Tak Serius Swasembada, Rakyat Disuruh Makan Keong Sawah, SADIS


Komentar Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman , terkait “mahalnya harga daging sapi, beralih saja ke keong sawah”, pada saat  inspeksi dadakan di pasar Induk Cipinang pada hari senin 04/12/2017, menunjukkan bahwa penguasa tidak serius dalam mewujudkan pemenuhan kebutuhan daging sapi di Indonesia.

Pasalnya, saran beralih ke keong sawah bukanlah solusi sekaligus menunjukkan lepas tangannya pemerintah dari mengurus rakyat.

Dari segi kondisi, Andi Imran menyampaikan solusi tersebut memang secara informal, namun hal ini menjadi sesuatu yang serius di tengah masyarakat yang sedang ditimpa kisruh membara karena harga daging terus melambung.

Harusnya pemerintah berempati dan memberikan solusi kepada rakyat, bukan malah menjadikan rakyat sebagai bahan senda gurau sehingga menyakiti hati rakyat yang tak mampu membeli daging yang mahal. Dan terbukti, kata-kata beliau di Pasar Cipinang tersebut langsung direspon masyarakat bahkan menjadi trending topik di media sosial Twitter.

Persoalan mahalnya daging sapi adalah sesuatu yang  penting untuk ditelaah mengingat daging adalah lauk pauk yang penting bagi kebutuhan nutrisi  tubuh. Bahkan daging penyumbang protein tertinggi di dalam pangan yang  mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan manusia terlebih lagi anak-anak.

Harga Mahal Efek Swasembada Gagal

Mahalnya daging tentulah sangat dipengaruhi dari ketersediaan daging sapi itu sendiri, disamping faktor-faktor lain seperti kartel, biaya operasional, dan bea cukai. Kemampuan suatu negara menyediakan kebutuhan akan daging bagi penduduknya disebut sebagai swasembada.
Pemerintah selaku pihak yang mengurusi urusan rakyat sudah seharusnya mengerahkan segala daya upaya untuk memenuhi kebutuhan dan ketersediaan daging sapi tersebut.

Prognosa kebutuhan daging bagi negara Indonesia berdasarkan Badan Pusat Statistik tahun 2017 adalah 604.968  ton. Namun, pemenuhan dalam negeri masih mencapai 354.770 ton, sehingga kekurangan kebutuhan daging sapi sekitar 250.000 ton-an lebih.

Ketidakmampuan pemerintah memasok daging sapi di tengah-tengah masyarakat inilah yang disebut sebagai swasembada gagal. Untuk menutupi kekurangan tersebut, biasanya negara mengimpor sapi dari luar.

Presiden Jokowi dan Mentan Andi Amran Sulaiman


Ketersediaan daging lokal yang rendah sementara permintaan besar menyebabkan harga daging lokal di pasar menjadi mahal. Harga daging sapi lokal rata rata adalah Rp.130.000-an/kg, sementara daging impor berkisar Rp.80.000-an/kg.

Harga daging impor lebih murah daripada daging lokal disebabkan biaya pembelian sapi oleh pemerintah dan para importir sangat murah yakni kisaran Rp 43.000/kg (detik.com, 13/12/2016).
Murahnya harga daging di Australia disebabkan ketersediaan sapi di Australia mencukupi kebutuhan penduduk bahkan berlebih. Populasi sapi di Australia bahkan lebih banyak dari pada populasi penduduknya.

Jumlah populasi sapi  di Australia berkisar 28.250.000 ekor, sedangkan populasi penduduk berkisar 23.892.000 juta orang (ekonomi.kompas.com, 13/9/2015) Ketersediaan barang yang melimpah menjadikan harga menjadi turun dan murah, demikian pula sebaliknya.
Berbanding terbalik dengan Indonesia, dimana populasi penduduknya jauh lebih banyak dari Australia, tetapi populasi sapinya jauh lebih kecil. Berdasarkan Kementrian Pertanian Republik Indonesia tahun 2017 populasi sapi di Indonesia adalah 16.599.257 ekor dengan populasi penduduk 250 juta lebih.

Populasi sapi tersebut belum mampu menghasilkan daging yang cukup untuk kebutuhan rakyat Indonesia. Maka wajar ketersediaan daging sapi lokal di Indonesia tidak tercapai dan menyebabkan harga daging sangat mahal serta sulit dijangkau masyarakat menengah ke bawah.
Pemerintah harus meningkatkan populasi sapi untuk mewujudkan swasembada, bukan hanya mengambil solusi instan berupa impor. Ketergantungan akan impor dapat membahayakan nasib peternakan Indonesia. Swasembada daging akan mampu mewujudkan harga daging yang stabil dan murah.

Kartel Dan Bea Cukai Impor (Pajak)

Kartel juga merupakan hal yang dapat menyembabkan melambungnya harga daging di pasar. Kartel adalah bersepakatnya dua atau lebih perusahaan  dalam mengeluarkan produk dengan harga yang sama dan waktu yang bersamaan. Perilaku kartel marak terjadi saat adanya peristiwa hari besar, misalnya perayaan Idul Fitri, dan Tahun Baru.

Perusahaan-perusahaan pengepul daging biasanya bersepakat untuk menahan  atau menimbun daging dalam jangka waktu tertentu kemudian akan dikeluarkan pada waktu yang disepakati secara bersamaan  dengan harga yang tinggi  dan sama.

Daging yang ditahan atau ditimbun akan membuat daging menjadi langka di pasar. Kelangkaan dan tingginya permintaan  akan menyebabkan kenaikan harga produk daging sapi menjadi mahal.
Besarnya tarif pajak impor juga menyebabkan harga daging impor menjadi tinggi. Harga jual daging impor di Indonesia adalah kisaran Rp. 80.000/kg, sementara harga beli dari Australia kisaran Rp. 43.000/kg.




Harga jual tersebut, jauh sangat mahal dibandingkan harga jual daging sapi impor di Singapura yakni kisaran Rp.50.000, padahal sapi impor di Indonesia dan Singapura sama-sama  didatangkan dari Australia.  Penyebab dari besarnya range tersebut adalah besarnya bea cukai atau pajak impor di Indonesia dibandingkan Singapura.

Bahkan Direktur Utama PT. Rajawali Nusantara Indonesia, Ismed Hasan Putro mengaku heran dengan harga daging sapi beku impor di dalam negeri yang masih mencapai Rp. 95.000/kg, padahal harga daging sapi beku di negara asalnya Australia hanya Rp. 23.500/kg (detik.com, 09/04/2015). Besarnya perbedaan harga jual dan beli daging impor tersebut disebabkan tarif pajak impor tinggi.

Hoaks Diversifikasi Daging Ke Keong Sawah

Mewujudkan diversifikasi atau peralihan daging sapi ke keong sawah menjadi pembahasan yang menarik dari aspek apakah keong sawah sebagai bahan subtitusi daging sapi dapat terealisasi? Andi Imran berargumen protein keong sawah sama dengan protein daging sapi, sehingga dapat difahami dari komentar Andi di pasar, keong sawah disarankan sebagai bahan subtitusi daging.

Pernyataan tersebut akan menjadi sesuatu yang menggelikan ditinjau dari ketersediaan keong sawah dan keoptimalannya dalam pemenuhan kebutuhan protein bagi manusia. Dari aspek ketersediaan, keong sawah bukanlah hewan yang tersedia di alam secara melimpah karena setiap sawah  tidak  selalu memiliki keong sawah.

Dari  aspek keoptimalannya untuk tubuh manusia, keong sawah juga tidak mencukupi kebutuhan protein manusia. Keong sawah biasanya digunakan untuk pakan ternak lele dan ayam karena keong sawah  hanya cukup  memenuhi kebutuhan ternak tersebut. Sehingga, diversifikasi daging ke keong sawah tidak lain hanyanya hoaks yang menggelikan.

Penguasa Wajib Mewujudkan Swasembada
Swasembada wajib diwujudkan oleh negara agar harga daging sapi ditengah-tengah masyarakt menjadi murah dan terjangkau. Negara tidak boleh berlepas tangan dari hiruk pikuk nasib peternak yang berefek kepada masyarakat luas (umat), apalagi menyarankan untuk beralih ke keong sawah.

Pesimisme tentang Indonesia tidak bisa swasembada perlu ditelaah kembali mengingat Indonesia adalah negara yang sumber daya alamnya sangat potensial, lingkungannya mendukung, dan lahannya luas. Potensi negara yang Allah karuniakan harus dikelola dengan amanah.

Pemerintah harus menempuh langkah-langkah untuk mewujudkan swasembada daging. Pertama, penggunaan teknologi. Australia telah menerapkan teknologi-teknologi yang canggih di dalam beternak sehingga menjadi negara pengekspor terbesar untuk sapi hidup dan daging sapi ke lebih dari 100 negara di dunia (koran.sindo.com, 25/11/2016).

Teknologi yang digunakan misalnya teknologi pengolahan pakan dan lahan, penggunaan bibit unggul hasil teknologi rekayasa genetik, teknologi nutrisi pakan, obat, dan teknologi perkandangan.

Peternak di Australia dapat menekan biaya operasional  pemeliharaan dengan penggunaan teknologi alat berat berupa mesin mixer pakan, dan traktor lahan sehingga hasil lebih menguntungkan.

Dibandingkan dengan Indonesia, sapi lokal dipelihara oleh peternak dengan cara-cara yang tradisional sehingga membutuhkan biaya dan  tenaga yang besar dalam pemeliharaannya.

Biasanya pemenuhan pakan diperoleh dari rumput yang tersedia di alam secara liar yang belum jelas kualitas nutrisi dan anti kualitas (anti nutrien) yang ada dalam pakan tersebut. Sehingga waktu panen  menjadi lama dan rantai biaya produksi semakin mahal.

Penerapan teknologi dalam nutrisi pakan menjadi faktor terbesar dalam keberhasilan beternak. Teknologi nutrisi  pakan sekaligus menjawab keresahan peternak dalam mewujudkan ketersediaan pakan secara kuantitatif dan kualitatif.

Namun, hampir semua pakan ternak yang digunakan Indonesia berasal dari perusahaan raksasa asal luar negeri (asing) diantaranya misalnya PT Cargil, Japha Comfeed dan Charon Phokpand. Indonesia sulit untuk mewujudkan swasembada, jika pakan masih dikuasai oleh instansi yang membuat pemerintah dan peternak terus bergantung.

Penggunaan bibit unggul juga berperan signifikan di dalam mewujudkan swasembada. Pasalnya ternak yang genetiknya bagus akan menghasilkan produktivitas yang tinggi.

Demikianlah teknologi terapan sudah selayaknya diadopsi dan diterapkan oleh negara dalam rangka mewujudkan swasembada.

Kedua. Kerjasama penguasa dan seluruh elemen yang berkaitan. Elemen-elemen yang terkait dalam swasembada adalah pemerintah, akademisi dan peternak. Intelektual atau akademisi dijadikan sebagai kepanjangan tangan penguasa, yang bertugas   untuk menemukan teknologi dan terobosan yang dapat memecahkan permasalahan peternakan.



Negara wajib mengerahkan dan mendorong para intelektual untuk berkarya dan meneliti. Segala fasilitator intelektual harus disupport oleh pemerintah sepenuhnya, sehingga intelektual dapat menjalankan perannya dengan baik.

Peternak adalah ujung tombak dari penerapan teknologi  dan terobosan karya akademisi. Negara harus hadir membantu peternak dalam perkara-perkara yang besar dan serius misalnya pengadaan teknologi alat berat, bibit unggul, dan pakan yang berkualitas.

Selain pengadaan alat berat, edukasi ke peternak adalah hal yang penting. Misalnya edukasi teknologi perkandangan yang baik dan benar sehingga mereka dapat beternak secara profesional.

Pemerintah mensupport dan mendorong peternak dalam membangun peternakan berskala industri. Sebagaimana yang terjadi di Australia, sebagian besar populasi sapi dihasilkan oleh para peternak rakyat yang fokus pada kegiatan peternakan.  Satu orang pemilik peternakan dapat memelihara sapi dengan jumlah puluhan ribu.

Jika para peternak mampu membangun peternakan skala industri, ketersediaan daging negara akan tercukupi. Demikianlah formulasi peran pemerintah, intelektual (akademisi), dan peternak di dalam mewujudkan swasembada. Swasembada terwujud jika memang penguasa serius di dalam mengurusi rakyatnya.[MO]

sumber: mediaoposisi.com
Penguasa Tak Serius Swasembada, Rakyat Disuruh Makan Keong Sawah, SADIS Reviewed by admin on January 14, 2018 Rating: 5 Komentar Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman , terkait “mahalnya harga daging sapi, beralih saja ke keong sawah”, pad...