728x90 AdSpace

GEGER JAGAD MAYA Video Mirip Kontestan Indonesia Idol, Begini Tanggapan Juri, Klarifikasi yg Bersangkutan, Sekaligus Mengenal Pembuktian Dalam Islam




GEGER JAGAD MAYA Video Mirip  Kontestan Indonesia Idol, Begini Tanggapan Juri, Klarifikasi yg Bersangkutan, Sekaligus Mengenal Pembuktian Dalam Islam

Geger Jagad Maya

Jagat maya kemabli dihebohkan dengan beredarnya  video adegan di atas ranjang antara seorang pria dengan wanita yang mirip dengan salah satu kontestan Indonesian Idol 2018, Marion Jola. Saat ini link video mesum itupun sedang beredar di sejumlah media sosial, seperti di grup WhatsApp dan Twitter.

Tentu saja hal itu menjadi pukulan telak bagi penggemar wanita cantik ini. Pasalnya wanita yang sering disapa Lala ini baru saja lolos di babak 16 besar Indonesian Idol 2018.

Dilansir dari Grid.ID, Sabtu (13/1), dalam video asusila itu, terlihat sosok wanita berambut panjang tergerai tengah berbaring di atas ranjang. Tak tampak sehelai benangpun menutupi tubuh bagian atas si wanita. Sontak, netizen pun menilai kalau mereka usai melakukan hubungan layaknya suami istri.

Adapun ciri yang menguatkan dugaan netter bahwa si wanita adalah Marion Jola yakni kulit sawo matang, gigi putih, rambut hitam panjang dengan wajah manisnya yang terlihat jelas dalam video. Rekaman itu diambil oleh rekan pria yang berada satu kasur dengan si wanita.


Si wanita yang disebut mirip dengan kontestan Indonesia Idol 2018 tersebut berulang kali menutupi wajahnya dari kamera sambil tersenyum. Namun si pria pun tak mau kalah dengan berkali-kali menggeser tangan si wanita dari wajah.

Yang paling mengejutkan adalah perkataan si pria dalam rekaman berdurasi 40 detik tersebut. Ia sempat mengancam batal meniduri si wanita jika ia terus-terus bersembunyi dari sorotan kamera. Akhirnya wanita itu menyerah mengatakan, “Jangan.” Tawa si pria pun terdengar dan video berakhir.

Akibat beredarnya video terssebut, akun media sosial miliki Marion Jola pun @lalamarionmj dibanjiri pertanyaan dari para netter yang penasaran akan kebenaran video cabul tersebut. Namun ada juga yang memberikan dukungan kepada dara manis ini.

@teguhadhitya yang menuliskan, “Keep fighting lala, gausah peduliin apa kata orang tentang lo! Semua orang pasti punya salah, semua orang pasti punya dosa , mereka Cuma iri karna liat kesuksesan lo! Semangat @lalamarionmj.”

“Pdhal aq ngjagoin Lala d idol haduh pas liat video nya ,,parah juga ya ternyata dia tuh kan msh kecil @lalamarionmj,” tulis akun bernama @iviyarahma, seperti yang dikutip dari laman Tribunnews.com, Sabtu (13/1). (Red)






Tanggapan Juri


Skandal video mesum yang mirip dengan Marion Jola, peserta ajang pencarian bakat Indonesian Idol masih hangat diperbincangkan. Selain menanti klarifikasi dari wanita yang disebut mirip dengan pemeran di video itu, netizen juga mendesak pihak Indonesian Idol untuk memberi penjelasan.

Hingga kini video berdurasi 45 detik itu masih membuat netizen penasaran. Melihat hal tersebut yang sedang hangat diperbincangkan oleh netizen, Juri Indonesian Idol pun ikut berkomentar mengenai hal tersebut.

Akun instagram Ari Lasso @ari_lasso memberi komentar dipostingan Maia Estianty @maiaestiantyreal.

@ari_lasso : “Jadi gmana menurut anda ???”

Entah apa topik yang dimaksu dari pertanyaan Ari tersebut. Menanggapi komentar Ari, Maia memberi balasan yang cukup mengejutkan.

@maiaestiantyreal : “@ari_lasso didiskualifikasi hahaha,” tulis maia.

Sampai saat ini, baik dari pihak Lala maupun Indonesian Idol belum memberikan klarifikasi terkait beredarnya video mesum mirip Marion Jola. Kini, netizen mendesak kedua pihak untuk segera memberi penjelasan mengenai hal itu.

@arsya_raflyza_nababan : “Bunda.. Klarifikasi dong pihak indonesian idol tentang video mesum 40 detik marion jola.... Biar org2 gk berfiit negatif tentang wanita itu.. Sama ajang INdonesian Idol”

@viladavia : “Bunda @lalamarionmj video telanjang nya udah kesebar itu masih bisa ikutan idol?”

@darmayanticantik136 : “Salah satu peserta indonesian idol, video nya lagi viral, ga pantas jadi idola, piye iki mbak @maiaestiantyreal @ari_lasso” (amm)



Klarifikasi


Setelah terdiam dan enggan berikan klarifikasi lewat akun Instagramnya, Marion Jola, salah satu kontestan Indonesian Idol beserta tim akhirnya berikan klarifikasi terkait video mesum mirip Marion yang beredar luas.


Klarifikasi tersebut jelas terlihat di akun Facebook bernama Denop Frc. Di akunnya, tertulis tentang klarifikasi bahwa wanita dalam video itu bukanlah Marion melainkan orang lain yang mirip dengannya.

”Sore MJLovers (Marion Jola Lovers) d manapun berada. Sekedar info mengenai kasus vidio fake yg sempat heboh. Untuk tidak lagi meng-SHARE / m - BAGIKAN berita tersebut karena sedang dalam penanganan pihak berwajib. Apapun alasannya, entah untuk memastikan dll, tolong jangan d share,” bunyi status tersebut.

”Karena vidio itu adalah palsu alias bukan Marion Jola atau Lala. Kita doakan semoga Lala tetap tabah menghadapi setiap ujian dan pelaku penyebaran vidio tersebut cepat ditemukan,” tutupnya. O edi/berbagai sumber

Mengenal Sistem Pembuktian dalam Islam
(sebuah Tulisan bersama oleh Wahyu Khaniful Huda, Sechabudin, dan Heri Seno Aji)

Di jaman kejahiliyahan modern saat ini, kehidupan kita seakan tidak pernah alpa dari tindakan kriminalitas. Pembunuhan, pemerkosaan/perzinahan, aborsi, pencurian, korupsi, dll menjadi menu setiap hari. Hampir semua stasiun TV mempunyai tayangan khusus terkait hal tersebut. Dengan segala kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi, kasus kriminalitas meningkat dengan modus operandi yang sangat beragam. Sebut saja kasus video porno “mirip artis” yang menghebohkan Indonesia, bahkan ke mancanegara. Kasus ini telah ramai dibicarakan di mana-mana selama 2-3 bulan terakhir, mengalahkan pemberitaan kasus Century, piala dunia, dan penyerangan kapal bantuan kemanusiaan untuk Palestina.


Perdebatan dan perbincangan berlangsung di tingkat pakar maupun masyarakat umum, berkisar mengenai keaslian video (termasuk perseteruan pakar telematika dengan pengacara OC Kaligis, terkait SMS tawaran jasa Roy Suryo pada Luna Maya), pembuktian pelaku/pemeran sebenarnya, pasal hukum yang dapat menjerat/meringankan pihak yang melanggar hukum (pemeran hanya korban, penyebar video yang melanggar hukum), motif penyebaran video (pemerasan, pembunuhan karakter), dll. Penyelesaian kasus yang sangat lamban dengan pemberitaan berlebihan yang sarat kepentingan materi, justru memicu tindakan kriminalitas baru. Rasa penasaran menyebabkan hampir semua remaja pernah menonton dan menjadi penyebar video tersebut. Kehebohan seperti ini merangsang orang lain membuat video, termasuk dengan dalih untuk kepentingan koleksi pribadi, bukan untuk disebar. Belum lagi, perbuatan mesum yang dilakukan sudah dianggap menjadi sesuatu yang biasa sehingga ada keinginan berbuat hal yang sama. Jangankan efek jera, menganggap itu sebagai perbuatan kriminal, dosa, atau maksiat saja tidak. Orang-orang baik pun, kena imbasnya. Membicarakan kasus tersebut sebagai perzinahan sebelum ada pembuktian pasti.


Akar Masalah

Kalau kita perhatikan, kasus semacam ini bukanlah yang pertama dan tidak ada indikasi yang menunjukkan bakal menjadi kasus terakhir. Pandangan (pemikiran dan perasaan) masyarakat umum serta hukum yang diterapkan tidak mampu menghentikan atau sekadar membatasi tindakan kriminal. Menindak pelaku yang benar-benar terlibat saja sulit dilakukan. Pengungkapan kasus ini dan kasus kriminal lainnya juga bermasalah pada proses pembuktian. Itu semua merupakan bukti bahwa sistem kehidupan kita saat ini menjadi sebab mendasar muncul dan menjamurnya segala kerusakan. Tentunya, berdasarkan fakta dan kaca mata ideologis, kita meyakini bahwa biang keladi semua itu adalah diterapkannya ideologi setan kapitalis-sekuler yang hanya mementingkan kepentingan material dan melihat/menyelesaikan persoalan hanya berdasarkan hawa nafsu tanpa bimbingan wahyu!

Pembuktian Kasus Hukum Berdasarkan Hukum Positif

Tahapan penyelesaian kasus hukum di Indonesia didasarkan pada hukum acara yang notabene merupakan warisan penjajah Belanda (KUHAP). Orang yang diduga terlibat suatu peristiwa hukum akan mengalami penyelidikan dan penyidikan oleh aparat penegak hukum (kepolisian/sipil) yang ditunjuk. Untuk kepentingan pemeriksaan dan pengumpulan bukti, polisi dapat melakukan penangkapan, penahanan, penyitaan, serta penggeledahan tempat/rumah dan badan. Selanjutnya, dibuatkan berita acara pemeriksaan/BAP yang akan diserahkan ke penuntut umum/kejaksaan. Pengembalian BAP dilakukan jika masih mesti dilengkapi oleh penyidik. Berdasarkan BAP yang sudah lengkap dibuatlah surat dakwaan untuk tahap penuntutan. Sidang pengadilan diselenggarakan secara bertahap dengan urutan: sidang pembacaan surat dakwaan, eksepsi, tanggapan JPU, tanggapan atas tanggapan, keputusan sela terkait eksepsi, pembuktian dengan keterangan saksi dan ahli, pemeriksaan barang bukti, pemeriksaan terdakwa, pembacaan tuntutan oleh JPU, pembelaan/pledoi, tanggapan JPU/replik, tanggapan replik oleh PH/duplik, keputusan/vonis hakim.

Setelah hakim menetapkan vonis, tidak serta merta eksekusi segera dilakukan. Seorang terdakwa dapat melakukan upaya hukum jika tidak puas terhadap putusan hakim. Upaya hukum diklasifikasikan menjadi biasa (banding, kasasi, dan perlawanan/verzet) dan luar biasa (peninjauan kembali/PK atas putusan bersifat menghukum karena adanya keadaan baru yang diduga kuat jika diketahui sebelumnya dapat mempengaruhi putusan, ada hal/keadaan sebagai dasar pembuktian saling bertentangan, kekhilafan/kekeliruan yang nyata dari hakim; kasasi demi kepentingan hukum/KDKH oleh jaksa agung dengan tujuan hanya memperbaiki redaksi tertentu dari putusan dan pertimbangan hukum yang tidak tepat agar tidak terdapat kesalahan penahanan di kemudian hari). Dalam persidangan, terdakwa harus mengerti surat dakwaan JPU sehingga jika diperlukan, hakim dapat menjelaskan ulang. Keterangan terdakwa yang berlaku hanya di depan pangadilan.

Penyelesaian suatu kasus berupa penjatuhan sanksi/putusan hukum terhadap pelaku kejahatan pidana atau sengketa perdata mesti didahului dengan proses pembuktian di persidangan. Sistem pembuktian untuk tindak pidana/perdata menurut hukum positif yang berlaku di negeri ini menggunakan alat-alat bukti sesuai dengan hukum acara pidana/perdata positif. Adapun yang menjadi alat bukti yang digunakan pada persidangan pidana dan perdata antara lain keterangan saksi dan surat. Sementara itu, khusus untuk tindak pidana ditambah dengan keterangan ahli, petunjuk, dan keterangan terdakwa (pasal 184 KUHAP). Dengan berbekal minimal dua alat bukti, hakim sudah dapat memutuskan suatu perkara pidana berdasarkan UU. Dari alat bukti tersebut, hakim memperoleh keyakinan bahwa terdakwa bersalah, melakukan tindak pidana.

Saat ini, pengungkapan/pembuktian suatu kasus hukum banyak menggunakan keterangan ahli dan barang bukti. Ironisnya, tidak jarang hakim lebih bertumpu pada barang bukti sebagai alat bukti petunjuk. Kemajuan IPTEK telah digunakan untuk kepentingan pembuktian, di antaranya identifikasi orang dan hubungan kekerabatan dengan sidik jari ataupun tes DNA (inti dan mitokondria), lie detector, anjing pelacak, otopsi, pemeriksaan visum, serta keterangan ahli/pakar seperti dokter, psikolog, telematika, ekonom, dan lain-lain. Bahkan, ilmuwan Amerika Serikat di University of Colorado sedang mengembangkan jejak kuman sebagai alat bukti kejahatan terbaru yang unik dan lebih tahan lama (Maret, 2010, Tempo Interaktif, Washington). Teknik ini, katanya, 70—90% akurat dan telah dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences. Instrumen canggih seperti di atas memang sangat pantas dibutuhkan untuk pembuktian kasus hukum dengan kondisi masyarakat materialistik/sekuler seperti saat ini. Adanya pengacara, berbagai ahli/pakar, jaksa, dan hakim yang tidak amanah dan kapitalis tentunya mempengaruhi putusan hukum yang dibuat berdasarkan bukti dan keterangan yang dapat direkayasa sesuai kelicikan masing-masing. Mental masyarakat yang tidak (lagi) mengenal dosa karena adanya penyempitan makna dosa, bahkan tidak takut dan terbiasa dengan dosa memang merupakan salah satu ciri khas masyarakat sekuler.

Pembuktian Kasus Hukum Berdasarkan Hukum Islam

Dalam sistem hukum/peradilan Islam, penentuan pelaku kriminal, definisi kejahatan, jenis sanksi (uqubat: hudud, qishahs/diyat, ta’zir, dan mukhalafat), hak pengampunan, hukum pembuktian (ahkamul bayyinah), dan lain-lainnya didasarkan pada syariat Islam. Daulah Khilafah dengan segala instrumen peradilannya akan mampu menyelesaikan kasus hukum dalam waktu singkat tanpa berbelit-belit dan bertele-tele. Putusan hukum yang dibuat oleh qadhi/hakim adalah putusan yang final, kecuali jika vonis tersebut bertentangan dengan syariat Islam secara qath’iy (tidak ada ikhtilaf) atau ketika hakim mengabaikan fakta yang pasti (tanpa alasan yang jelas). Dengan cara inilah, publik bisa mendapatkan keadilan dan tidak membebani pengadilan/masyarakat dengan antrean kasus yang lama terselesaikan. Para pelaku kejahatan pun tidak bisa lepas dari rasa takut karena vonis yang ditetapkan pengadilan akan segera dieksekusi sehingga memiliki efek jera.

Berbeda dengan sistem peradilan yang diterapkan di negeri ini, dalam sistem peradilan Islam, tidak ada alasan aparat hukum untuk memasukkan seseorang ke penjara, kecuali apabila qadhi memiliki kecurigaan berdasarkan bukti, bahwa tersangka akan melarikan diri. Seseorang harus tetap dianggap tak bersalah sampai bisa dibuktikan kesalahannya. Tugas penuntutlah untuk membuktikan kesalahan pihak tersangka (bukan pembuktian terbalik). Jika gagal, kasus tersebut akan segera dibatalkan. Adapun yang menjadi alat bukti yang dapat digunakan oleh qadhi ada empat macam, yaitu: pengakuan, sumpah, kesaksian, dan dokumen tertulis yang meyakinkan. Keempat macam bukti tersebut telah ditetapkan (sebagai bukti) berdasarkan dalil, baik yang tercantum di dalam al-Qur’an maupun hadits. Adapun petunjuk (indikasi/qarinah), termasuk keterangan ahli, bukan merupakan bukti secara syar’i. Berikut ini beberapa dalil terkait macam-macam bukti tersebut:

    Pengakuan. Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu) kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.” (Qs. al-Baqarah [2]: 84).
    Sumpah. Allah SWT berfirman: “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar).” (Qs. al-Maa’idah [5]: 89). Dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Nabi saw bersabda: “Bukti itu wajib bagi orang yang mendakwa, sedangkan sumpah itu wajib bagi orang yang didakwa.” Imam Baihaki meriwayatkan sebuah hadits dengan isnad shahih dari Nabi Saw, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Bukti itu wajib bagi orang yang mendakwa, sedangkan sumpah itu wajib bagi orang yang mengingkarinya.”
    Kesaksian. Allah SWT berfirman: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki diantaramu. Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan.” (Qs. al-Baqarah [2]: 282). Nabi Saw bersabda: “Dua saksi dari kalian atau sumpahnya.”
    Dokumen-Dokumen Tertulis. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan diantara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu tidak menulisnya.” (Qs. al-Baqarah [2]: 282).

Jadi, hukuman yang dijatuhkan terhadap pelaku hanya dapat dilakukan apabila telah memenuhi syarat-syarat yang ketat. Sistem pembuktiannya didasarkan pada prinsip kejelasan dan menghindari kesamaran. Sesuatu tidak bisa menjadi bukti, kecuali jika sesuatu itu meyakinkan dan pasti. Seseorang yang memberi pengakuan atas suatu tindak pidana, tidak langsung dapat divonis. Hakim harus memastikan pengakuan tersebut lahir dari kesadaran orang tersebut. Sumpah yang dijadikan sebagai bukti adalah sumpah atas peristiwa yang telah terjadi. Itupun dinyatakan sah atas permintaan qadhi di pengadilan yang isi sumpahnya berdasarkan niat/maksud qadhi dan tidak mengandung ungkapan tauriyah. Karena, terkadang, seseorang bersumpah dengan sengaja menggunakan kata-kata yang ditafsirkan (diniatkan) sendiri untuk menghindari vonis, tetapi takut bersumpah palsu.

    Rasulullah SAW bersabda, “Sumpah itu berdasarkan niat dari pihak yang meminta sumpah” (HR Muslim).

Seseorang tidak boleh memberikan kesaksian kecuali kesaksiannya itu didasarkan pada sesuatu yang menyakinkan. Kesaksian tidak sah, jika dibangun di atas dzan (keraguan).  Rasulullah saw telah bersabda kepada para saksi: “Jika kalian melihatnya seperti kalian melihat matahari, maka bersaksilah. (Namun) jika tidak, maka tinggalkanlah.” (HR al-Baihaqi dan al-Hakim menurutnya sahih. Namun, adz-Dzahabi men-dhâ’îf-kannya).

Pihak yang dijadikan saksi juga bukan sembarang orang, namun hanya orang yang memenuhi kualifikasi tertentu yaitu: balig, berakal, dan adil. Sifat adil merupakan hal yang penting dalam kesaksian karena ia menentukan integritas seorang saksi dalam menyampaikan kesaksian. Syariah juga telah menetapkan orang-orang yang tidak boleh menjadi saksi yaitu: orang yang mendapat sanksi karena menuduh orang lain berzina (qadzaf), anak yang bersaksi kepada bapaknya dan bapak kepada anaknya, istri kepada suaminya dan suami kepada istrinya, pelayan (al-khâdim) yang lari dari pekerjaannya serta orang yang bermusuhan dengan terdakwa.

Penetapan layak tidaknya seseorang menjadi saksi dalam sebuah perkara ditetapkan oleh qâdhi di dalam pengadilan. Jumlah saksi dalam setiap perkara pada dasarnya dua saksi laki atau yang setara dengan jumlah tersebut, yaitu satu saksi laki dan dua perempuan, empat saksi perempuan atau satu saksi laki-laki ditambah dengan sumpah penuntut. Sebagaimana diketahui, dua orang wanita dan sumpah setara dengan seorang saksi laki-laki. Meski demikian, syariah telah memberikan pengecualian dari jumlah tersebut, yaitu pada kasus perzinaan yang disyaratkan empat saksi; penetapan awal bulan (hilal) cukup satu orang saksi; dan kegiatan yang hanya melibatkan wanita seperti penyusuan dengan satu saksi perempuan.

Adapun terkait dengan dokumen tertulis, tetap memerlukan penetapan agar dapat dijadikan bukti. Dokumen bertanda tangan tetap mesti dikonfirmasi dengan pengakuan orang yang tanda tangannya tertera. Untuk dokumen resmi yang dikeluarkan pemerintah seperti surat nikah, akte kelahiran, KTP/SIM, dll langsung dapat dijadikan sebagai bukti, kecuali dokumen tersebut palsu. Sementara itu, dokumen tertulis yang tidak bertanda tangan seperti surat, pengakuan utang, faktur belanja dan sebagainya maka statusnya sama dengan dokumen yang bertanda tangan, yaitu membutuhkan penetapan bahwa orang tersebut yang menulis atau memerintahkan menulis atau mendiktekan tulisan tersebut. Dokumen yang dianggap valid menjadi alat bukti bagi pendakwa hanya diterima jika dihadirkan di pengadilan.

Contoh Kasus

Seseorang tidak dapat dibuktikan telah berbuat zina hanya didasarkan pada informasi bahwa berbagai barang bukti yang ditemukan di tempat kejadian atau di rekaman peristiwa (video) mirip atau memang merupakan milik tersangka dan adanya kesamaan ciri fisik (superimposed bentuk tengkorak, suara, ciri khas seperti tatto/tanda lahir). Berbagai indikasi seperti ditemukan adanya sperma pada pakaian dalam seorang wanita, robeknya himen (selaput dara) seorang perawan, terlihatnya seorang laki-laki dan seorang perempuan (bukan suami-istri) keluar dari kamar hotel, klip rekaman adegan hubungan suami istri, dan sebagainya tetap tidak bisa menjerat seseorang dengan tuduhan perzinahan. Adanya bukti syar’i-lah yang dapat dijadikan dasar penetapan seseorang telah berzina atau tidak. Bukti kesaksian yang tidak mencukupi nishab, justru pelapornya diancam hukuman 80 kali cambuk sebagai tindak pidana tuduhan zina.

Dari Ibnu ‘Abbas ra, ia meriwayatkan sebuah hadits tentang Ma’iz, bahwa Nabi Saw bertanya kepada Ma’iz bin Malik: “Apakah benar apa yang telah disampaikan kepadaku tentang dirimu?” Ma’iz balik bertanya, “Apa yang disampaikan kepada engkau tentang diriku?” Nabi Saw menjawab, “Telah sampai berita kepadaku bahwa engkau telah berzina dengan budak perempuan keluarga si fulan.” Ma’iz menjawab, “Benar.” Kemudian bersaksilah empat orang saksi. Lalu, Rasulullah Saw memerintahkan agar Ma’iz dirajam. Maka dirajamlah al-Ma’iz.

Dalam riwayat lain, Rasulullah pernah menangguhkan rajam kepada Ma’iz sampai ia mengaku empat kali, karena rasul meragukan kesehatan akal Ma’iz. Bahkan Ma’iz dikembalikan kepada sukunya untuk ditanya apakah akalnya sehat dan setelah itu baru dirajam.

Diriwayatkan Al Hafiz Abu Bakar Baihaqi dalam Sunan Baihaqi 8/234 no 16819 dari Qusamah bin Zuhair: Dari Qusamah bin Zuhair yang berkata “Ketika ada permasalahan antara Abu Bakrah dengan Mughirah dan dilaporkan maka kemudian Umar meminta kesaksian. Abu Bakrah, Syibil bin Ma’bad, dan Abu Abdullah Nafi’ memberikan kesaksian. Umar berkata setelah mereka memberikan kesaksian, “Masalah ini membuat Umar dalam kesulitan”. Kemudian Ziyad datang, Umar berkata kepadanya, “bersaksilah insya Allah kecuali yang haq” . Maka Ziyad berkata, “Adapun zina, maka aku tidak menyaksikan dia berzina. Namun aku melihat sesuatu yang buruk”. Umar berkata, “Allahu Akbar, hukumlah mereka”. Oleh karena itu, dicambuklah mereka bertiga. Kemudian setelah dicambuk oleh Umar, Abu Bakrah berkata, “ Saya bersaksi bahwa sesungguhnya dia Mughirah berzina”. Umar RA hendak mencambuknya lagi, namun Ali RA mencegahnya seraya berkata kepada Umar, “Jika engkau mencambuknya lagi, maka rajamlah sahabatmu itu”. Maka Umar mengurungkan niatnya dan tidak mencambuk Abu Bakrah lagi”. Dalam riwayat lain, setelah dicambuk, mereka kemudian diperintahkan agar bertaubat. Hanya Abu Bakrah yang tidak bersedia sambil menyatakan, “Engkau meminta aku bertobat semata-mata agar engkau dapat menerima kesaksianku?” Umar menjawab, “Benar.” Abu Bakrah balik menjawab, “Saya wajib untuk tidak bersaksi antara dua perkara (antara kebenaran dan kesalahan bersaksi dalam kasus al Mughirah) selama-lamanya, selama saya masih hidup.”

Hal ini berbeda dengan pernyataan Komjen Pol. Ito Sumardi, Kabareskrim Mabes Polri, (Metro TV, 16 Juli 2010, 12.30): “...dua tersangka cukup koperatif, yaitu Luna Maya dan Cut Tari. Polisi tidak mengejar pengakuan tersangka, sudah cukup bukti untuk diajukan...”.

Berbagai hal yang mungkin bisa digunakan untuk menyelidiki, sebenarnya boleh digunakan, misalnya, perkataan tersangka akan membunuh seseorang pada suatu kesempatan, ditemukannya surat jalan/dinas tersangka ke daerah kejadian, sidik jari pada barang bukti, dll. Namun, semua ini tetap tidak bisa dijadikan sebagai bukti atas suatu dakwaan. Rasulullah saw ketika bertanya kepada seorang jariyyah (budak) perempuan, siapa yang (akan) membunuhmu, kemudian disebutkan nama si fulan dan si fulan kepada budak perempuan tersebut, yang mengisyaratkan kepada seorang Yahudi. Maka beliau tidak menetapkan perkataan perempuan itu sebagai bukti. Meski beliau tetap melakukan penyelidikan terhadap (laki-laki Yahudi tersebut) berdasarkan perkataan wanita tadi. Selanjutnya, Yahudi itu dipanggil, dan laki-laki Yahudi itu mengakuinya. Maka ia pun dibunuh. Demikian pula halnya dengan qarinah (indikasi-indikasi) atau yang sejenisnya, harus diselidiki terlebih dahulu, tidak boleh dijadikan sebagai bukti, termasuk penentuan nashab dengan tes DNA. Intinya, sistem pembuktian Islam mensyaratkan adanya suatu kepastian.

Aspek Ruhiah

Memang Islam menjadikan bukti yang lahiriah yang menjadi dasar dalam pengadilan sehingga peluang terjadinya rekayasa oleh pihak yang berperkara dalam menghadirkan bukti-bukti di pengadilan dapat saja terjadi. Hal ini memang tidak ditampik oleh Islam. Meski demikian, patut dicatat bahwa syariah sangat mengecam tindakan tersebut dan pelakunya diancam dengan azab neraka.

    Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya kalian berselisih di hadapanku dan boleh jadi sebagian dari kalian lebih fasih dalam berargumentasi dari yang lain sehingga saya memutuskan berdasarkan apa yang saya dengar darinya. Siapa yang saya berikan padanya hak saudaranya maka janganlah ia mengambilnya karena sesungguhnya saya telah memberikan untuknya bagian dari neraka." (HR al-Bukhari-Muslim).

Peringatan yang sama juga ditujukan kepada para saksi. Betul bahwa ia dapat bersaksi dengan saksi palsu sehingga dapat mempengaruhi keputusan pengadilan. Namun, setiap saksi akan diingatkan bahwa Allah senantiasa menyaksikan apa yang mereka nyatakan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban (QS 17: 36). Di samping itu, kesaksian palsu merupakan salah satu perbuatan yang sangat dikecam di dalam Islam.

Dalam Shahih Muslim tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi 1/91 no 143 (87): Telah menceritakan kepada kami Amru bin Muhammad bin Bakir bin Muhammad Naqid yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ulayyah dari Sa’id bin Al Jurairi yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abi Bakrah dari Ayahnya (Abi Bakrah) yang berkata “kami berada di sisi Rasulullah SAW, kemudian Beliau bersabda “Perhatikanlah Aku akan memberitahukan pada kalian dosa yang terbesar (beliau mengulanginya tiga kali) yaitu Menyekutukan Allah SWT, durhaka kepada orang tua dan kesaksian palsu (atau ucapan dusta). Rasulullah yang semula bersandar kemudian duduk, Beliau mengulang-ngulang perkataannya sehingga kami berkata “semoga Beliau berhenti”.

Demikian pula halnya dengan qâdhi. Peluang untuk memanipulasi hukum sangat terbuka lebar karena di tangannyalah keputusan berada. Oleh karena itu, Rasulullah saw. mengingatkan para qâdhi agar tidak menyimpang dari hukum Allah SWT.

    Dari Ibnu Buraidah dari bapaknya dari Nabi saw. beliau bersabda, “Qadhi ada tiga: satu masuk surga dan dua masuk neraka. Qâdhi yang masuk surga adalah qâdhi mengetahui kebenaran dan memutuskan dengannya; sementara qâdhi yang mengetahui kebenaran lalu ia menyimpang darinya ketika memutuskan perkara maka ia di neraka. Demikian pula qâdhi yang memutuskan perkara dengan jahil maka ia pun masuk neraka.” (HR Abu Daud dan menurutnya sahih).

Khatimah

Tidak dapat dibantah bahwa Islam telah menjadi spirit lahirnya sebuah peradaban modern yang dicirikan oleh adanya pengaturan kehidupan melalui sistem peraturan hidup, sebagaimana ditemukannya peraturan pada semua peradaban dunia. Meskipun demikian, membangun peradaban Islam tidak hanya sekadar menegakkan pilar-pilar negara, atau menjalankan struktur pemerintahan (khalifah dan perangkatnya), atau menerapkan seperangkat aturan sistem peradilan, ekonomi, pertahanan-keamanan, dll untuk menyelesaikan masalah dan mencapai kesejahteraan umat manusia. Harus diingat, Rasulullah SAW terlebih dahulu membentuk kepribadian Islam yang kokoh, tahan uji, dan siap menjadi manusia-manusia beradab. Peradaban Islam dengan penerapan ideologi yang paripurna di masa mendatang tidak hanya akan mendatangkan kesejahteraan seluruh umat manusia, tetapi juga “menciptakan” pelaku kriminal berkarakter yang taraf keimanannya selevel dengan pendosa di masa kekhilafahan dulu.(wkh) cahayaperadaban
GEGER JAGAD MAYA Video Mirip Kontestan Indonesia Idol, Begini Tanggapan Juri, Klarifikasi yg Bersangkutan, Sekaligus Mengenal Pembuktian Dalam Islam Reviewed by admin on January 14, 2018 Rating: 5 GEGER JAGAD MAYA Video Mirip  Kontestan Indonesia Idol, Begini Tanggapan Juri, Klarifikasi yg Bersangkutan, Sekaligus Mengenal Pembukti...