-->

Ketika Felix Siauw Bicara soal Negara Tanpa Agama







Ketika Felix Siauw Bicara soal Negara Tanpa Agama.
 Dai sekaligus aktivis media sosial, Ustadz Felix Siaw melalui akun Facebooknya menyinggung logika terbalik tentang bagaimana memaknai toleransi dan intoleransi di Indonesia. Ia menilai sematan intoleransi hanya berlaku bagi mereka yang mencoba menjalankan agama Islamnya dengan baik dan sempurna.

Felix kemudian menjelaskan logika terbalik itu dalam bentuk permisalan-permisalan. Ia menyinggung soal kepemimpinan Islam, di mana seorang Muslim semestinya dipimpin oleh Muslim juga.

“Itu kau tuduh intoleransi, katamu itu tafsir yang salah, sementara kau sendiri berlagak jadi ahli tafsir padahal agamamu bukan agamaku,” katanya menyinggung pihak-pihak yang menggunakan “toleransi” untuk membenarkan pendapatnya.

“Giliran engkau merayakan keyakinanmu bahwa Tuhan lahir pada satu hari, kami yang membiarkan engkau merayakan sesukamu, engkau katakan tidak cukup, bagimu toleransi harus ikut-ikutan,” tambahnya pada Rabu (27/12/2017).

Lebih lanjut ia menyinggung tentang keimanan yang menjadi pembeda golongan manusia, sebagaimana diungkap oleh Al-Quran. “Maka yang tidak beriman adalah kafir, sekali lagi itu kau anggap sebagai intoleransi. Kau merasa keberatan atas istilah agama orang,” katanya.

“Tak cukup itu, engkau ingin mengobok-obok agama orang lain, mengatur-atur sesukamu, istilah kafir tidak boleh dipakai katamu, kalau sudah begitu baru toleran, engkau selalu mau menang sendiri,” herannya.

Felix menuturkan penilaian mereka yang memaknai toleransi bila ikut aturan negara. Sedangkan bila bertentangan dengan aturan maka itu intoleran. Dan sudah pasti akan dilabeli tambahannya, radikal, anti-Pancasila dan anti-NKRI.

“Bila Muslim yang melakukan itu namanya persekusi, harus ditindak tegas. Bila yang melakukan mereka, itu namanya aksi bela negara, pokoknya kalau sudah pakai nama NKRI, hukum miliknya,” ujarnya.

Aktivis medsos itu mengungkapkan apabila Muslim bertahan pada aturan agamanya maka itu intoleransi, tapi bila mereka seenaknya menentukan aturan, itu dianggap melindungi keberagaman.

“Protes atas kaum Nabi Luth, juga masuk intoleransi. Toleransi adalah bila engkau mau meninggalkan syariat Islam, meninggalkan keyakinan sebagai seorang Muslim,” ujarnya menyindir.

“Lha, bila itu semua diikuti, so pasti tak ada lagi bedanya kita dengan yang bukan Muslim. Kalau begitu untuk apa kita bersyahadat? Itu sebenarnya yang mereka inginkan, negara tanpa agama,” pungkasnya. (kiblat.net)






Promo