728x90 AdSpace

Subhanallah 6 Musisi ini berani berhijrah, Bahkan No 6 Jadi Pengemban Dakwah Syariah dan Khilafah Islamiyah

Bukan hal yang asing kalau dunia hiburan itu identik dengan kehidupan yang mewah dan glamor.
Banyak selebriti Indonesia yang salah bergaul justru terjerumus pada hal-hal negatif.
Tak jarang karena pernah melewati masa-masa gemerlap dunia hiburan, ada banyak artis yang memilih untuk mundur dari dunia keartisan.
Sama halnya dengan para musisi ini.

Para musisi ini memilih keluar dari band yang membesarkan nama mereka.
Mereka memilih untuk hijrah ke dunia yang lebih Islami.
Beberapa dari mereka menggeluti dunia yang berbeda dari sebelumnya, namun ada pula yang tetap memilih menjadi musisi untuk sekedar berdakwah dengan musik.
Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini 5 musisi yang hijrah menjadi lebih islami.

1. Sakti eks Sheila On 7


Pasti sudah nggak asing lagi dengan nama Sakti, ia adalah mantan anggota band Sheila On 7.
Beberapa tahun lalu, ia memilih hengkang dari grup dan ingin berhijrah.
Sekarang penampilannya jadi beda banget dengan Sakti yang dulu saat jadi anak band.
Tak hanya penampilan yang berubah, tapi juga nama dan penampilannya.
Selepas hengkang, Sakti diketahui sempat merulis sebuah album religi berjudul Selamatkan.
Sakti juga mengganti namanya menjadi Salman Al Jugjawy.
Saat ini, ia sibuk berbisnis bisnis clothing line.
Sakti kerap mengunggah produk-produk bisnisnya melalui akun Instagram miliknya.

2. Reza eks NOAH

 Mendapatkan kesuksesan luar biasa dari grup PETER PAN dan NOAH ternyata tak membuat hati Reza merasa tenang.
Ia justru memilih mundur dari NOAH dan memilih berhijrah menjadi lebih islami.
Selepas hengkang dari NOAH, Reza juga menggeluti bisnis clothing line.
Ia juga kerap mengikuti berbagai festival clothing di beberapa daerah.
3. Ray eks Nine Ball


Ray yang dulunya merupakan vokalis band Nine Ball sekarang merubah penampilannya menjadi lebih islami.
Meski begitu, ia tetap menggunakan jalur musik sebagai alatnya untuk berdakwah.

4. Sunu Mata Band



Tak jauh berbeda dengan Ray, Sunu juga melakukan hal yang serupa.
Sunu yang dulunya adalah vokalis Mata Band yang pernah terkenal dengan lagu hits berjudul "Ketahuan" kini telah berhijrah.

Sunu dan Ray tergabung dalam grup vokal Medina.
Medina pernah berduet loh dengan Umi Pipik, namun saat itu istri Almarhum Uje ini belum bercadar.




5. Berry Saint Loco

Pernah menjalani pahit getir kehidupan membuat Berry akhirnya menjadi seorang mualaf.
Ia mendapatkan kedamaian dalam ajaran agama Islam yang ia pelajari.
Vokalis grup `Saint Loco` ini mengaku mengenal Islam dari sahabat dekatnya Essa Muhammad.
Perubahan hidup Essa itulah yang membuat Berry tertarik mempelajari Islam.
Semakin hari, Berry semakin penasaran dan tertarik untuk mengikuti ajaran Islam yang dijalankan Essa. (TribunStyle.com/Tisa Ajeng)


6. Hari Moekti


Hari Moekti, dari seorang rocker jadi dai
 Pria itu kini lebih senang mengenakan baju gamis sampai sepanjang mata kaki dengan sorban melilit peci. Dia juga kerap menggantungkan sebuah syal di lehernya. Dia memilih bergaya ala dai. Penampilannya memang lebih sederhana ketimbang dulu.

Namanya Hariadi Wibowo. Jika disebut nama itu, pasti banyak orang tidak kenal. Biasa saja. Beda jika nama Hari Moekti disebut, tentu Anda pasti paham siapa dia. Minimal kenal nama.
Buat mereka yang menghabiskan masa remaja pada rentang 1980 sampai 1990-an, tentu sosok Hari Moekti tidak asing. Beragam ungkapan bisa bermunculan. "Oh itu sih idola saya waktu remaja," atau "itu penyanyi lagu Ada Kamu yang ngetop waktu saya muda," lainnya berkata, "Lagunya yang Ada Satu Kata enak tuh. Kenangan waktu masa pacaran dulu."

Hari Moekti muda memang beruntung. Pria asal Cimahi, Jawa Barat, itu bisa meraup pundi-pundi rupiah dari dunia hiburan tanah air lewat menjual suara. Namanya melambung di jagat belantika musik nasional, berkat kemampuannya dalam tarik suara dan tembangnya dan kerap bercokol di puncak tangga lagu.

Meski teknik olah vokalnya tidak hebat-hebat amat, tapi warna suara khas mampu melengking dipadu lirik lagu sederhana dan aransemen ringan membikin tembangnya amat digilai banyak pemuda saat itu.

"Adududududududuh..
Kau tak percaya
Adududududududuh
Mengapa ku cinta
Untuk kamu belahlah dadaku
Ini saja...,"

Begitu sepotong bait lagu Ada Kamu milik Hari Moekti. Siapa sih tidak kenal tembang lawas itu. Bagian reff-nya yang unik membuat lagu itu melejit dan terjual ribuan kopi. Duit pun mengalir.
Tidak hanya mampu memikat lewat lagu, Hari Moekti juga membius kawula muda saat itu dengan gaya enerjik di atas panggung. Dandanannya sebagai seorang penyanyi rock pun digemari banyak remaja. Jaket kulit atau rompi, sarung tangan, celana kulit ketat atau jins dengan sobekan di sana-sini menjadi pakemnya. Tak lupa tatanan rambut serta make up layaknya rocker pun dia lakoni.
Hal itu pun ditiru habis-habisan dan menjadi pakem dalam pergaulan remaja saat itu. Tak lengkap rasanya para kawula muda jalan-jalan sore dan nongkrong di Lintas Melawai tanpa berdandan dan berlagak layaknya Hari Moekti. Apalagi ada istilah saat itu, 'biar memble yang penting kece.'
Saat itu, Hari Moekti boleh dibilang bergelimang harta. Bayarannya sekali manggung bisa mencapai Rp 50 juta. Sangat besar buat ukuran masa itu. Dia menjadi mesin uang baru bagi perusahaan rekaman, promotor pagelaran, dan para pengusaha pakaian. Jualan mereka laris manis. Koceknya pun makin tebal. Dalam sekejap kehidupannya berubah.

Namun, meski berduit banyak, Hari Moekti mulai merasakan kejamnya persaingan dunia hiburan. Ketenaran mulai merasukinya. Hari yang merasakan puncak popularitas mulai hilang arah. Buat dia, tidak boleh ada bintang lain yang menyalip kharismanya, termasuk soal honor dan harta.
Mati-matian Hari berjuang mempertahankan karir keartisannya. Hidupnya tidak tenang, karena dihantui pemikiran jika dia sudah tak laku lagi jadi artis.

Di awal 1990-an, kegamangan dan kegalauan Hari Moekti terjawab sedikit demi sedikit. Dia mulai mendekati banyak ustad dan mulai mengaji. Saat itu, pikirannya mulai terbuka, hatinya terketuk. Dia tersadar pekerjaannya selama ini memang membuat terlena, meski belum tentu berdosa. Bahkan tak jarang membuat manusia berpaling dari Tuhan, dan lebih menuhankan dunia.

Hari berpikir ternyata selama ini apa yang dia lakoni justru merusak sendi-sendi Islam, dan itu terselip dalam tembang-tembangnya yang digemari remaja. Dia merasa menjadi idola tidak membuat kehidupannya dan para penggemarnya lebih baik. Itu cuma sesaat. Perasaan bersalah dan penyesalan mulai tumbuh, tapi bukan benci.

Kehidupan Hari Moekti saat ini berubah 180 derajat. Dia tanggalkan semua ketenaran, tepuk tangan, kemeriahan panggung, keglamoran, dan semua bunga-bunga dunia hiburan. Dia mantap menjejak di jalan dakwah. Memilih menjadi da'i di sisa hidupnya, mempersembahkan seluruh tenaga dan kemampuannya menjayakan Islam. Toh nama besarnya tidak tenggelam begitu saja.

Dia tetap bangga menyandang nama panggung Hari Moekti dalam berdakwah, ditambah kata Ustad di depannya. Kharismya di atas panggung tetap tak berubah. Sama-sama pegang mikrofon. Hanya bedanya dulu Hari sembari tarik suara, kini kerap membasahi bibirnya dengan lafaz Illahi.

Kini tak ada lagi petikan gitar, hentakan dan pukulan drum, betotan senar bass, dan lengkingan suara Hari Moekti. Semua diganti dengan lantunan Asma Allah SWT dan Shalawat Nabi Muhammad SAW, pun menuntun Hari Moekti bergabung dengan gerakan Hizbut Tahrir Indonesia.
Kini Hari merasa sudah menemukan kebahagiaan sejati. Apalagi, kini di sisa hidupnya seorang muslimah setia mendampinginya, dan dia pun kini telah dikaruniai dua anak. Cukup satu kata, "dakwah". [mtf]

Hari Moekti: Tak Cukup Hanya Tobat, Tapi Juga Harus Jadi Pengemban Dakwah
Tak cukup hanya bertobat dari maksiat, tapi menjadi pengemban dakwah itulah yang bisa menjadikan seorang muslim mulia dan bahagia. Demikian ujar da’i mantan artis Ustadz Khoir Hari Moekti dalam Tabligh Akbar yang digelar HTI Bekasi Raya, Ahad (7/12).

Acara yang bertempat di Mesjid Rahmansyah Kalimalang ini, dimulai pukul 9.00 dan dihadiri ratusan jamaah baik dari massa HTI maupun masyarakat sekitar.
Tabligh Akbar menghadirkan dua tokoh pembicara yaitu Ustadz Khoir Hari Moekti (mantan artis) dan Ustadz Abu Zafiroh (pengasuh ponpes Mus’ab bin Umair, karawang).

Ustadz Abu Zafiroh banyak bercerita tentang kebobrokan demokrasi dan sistem yang ada saat ini. Selama penyampaian juga beliau banyak menceritakan tantangan dakwah saat ini. Sudah saatnya sekarang sistem ini dirubah, bukan lagi kepada sistem yang lain melainkan dengan syariah dan khilafah, bahkan Indonesia pun memiliki potensi besar untuk jadi Khilafah, ‘tutur Ustadz yang juga syabab HTI ini’.

Kemudian acara tabligh akbar berlanjut kepada kisah inspiratif dari seorang mantan artis (Ustadz Khoir Hari Moekti), darinya banyak pengalaman yang diceritakan sejak dirinya masih dalam kehidupan yang bergelimang dengan kondisi jahiliyah, hingga beliau mengenal lebih dekat Islam.
Beliau juga memberikan motivasi kepada jamaah yang hadir, bahwa dakwah itu butuh pengorbanan dan keikhlasan. Bahkan harus meninggalkan keadaan yang bisa menjauhkan dari Islam, sebagaimana yang beliau pernah alami.

Ustadz yang giat memperjuangkan Syariah dan Khilafah bersama HTI ini mengatakan, tak cukup hanya bertobat dari maksiat, tapi menjadi pengemban dakwah itulah yang bisa menjadikan seorang muslim mulia dan bahagia. Terakhir beliau juga mengajak jamaah untuk tetap bersama-sama memperjuangkan syariah dan khilafah. Acara tabligh akbar ditutup dengan doa dan berkhir tepat pukul 11.30.[] (hti)

Subhanallah 6 Musisi ini berani berhijrah, Bahkan No 6 Jadi Pengemban Dakwah Syariah dan Khilafah Islamiyah Reviewed by Portal Dunia on June 13, 2017 Rating: 5 Bukan hal yang asing kalau dunia hiburan itu identik dengan kehidupan yang mewah dan glamor. Banyak selebriti Indonesia yang salah bergaul ...